Senin, 29 Oktober 2012

Industri Buku di Indonesia


Problematika Industri Perbukuan : Pemasaran dan Fluktuasi Harga

Jika melirik sekilas kamar industri perbukuan, nampak tidak ada persoalan yang berarti. Dalam pengalaman Mas Ade (pemantik diskusi MCKM) memantau industri perbukuan di DIY, sembari membandingkan dengan hasil penelitiannya tentang sejarah perkembangannya pada kurun waktu 1998 – 2007, proses industri perbukuan berlangsung datar-stabil dengan aktivitas yang tidak berubah. Pemantik melihat bahwa alur atau proses produksi buku dari dulu sampai sekarang sama saja, yakni produksi akan selalu dimulai dari menemukan naskah, tahap pracetak, kemudian mencetak, hingga siap didistribusikan. Dalam setiap proses tersebut relatif berjalan lancar. Terlebih industri perbukuan dalam konteks Yogyakarta, nyaris tanpa hambatan karena ditunjang oleh berbagai kemudahan mendapatkan semua komponen pendukung untuk penerbitan sebuah buku. Bahwa, "dengan jumlah kampus yang banyak,kita bisa menemukan sekian banyak penulis; dengan menjamurnya prodi desain grafis maka sekian banyak desain grafis bisa digunakan untuk buku; bahkan hampir di setiap gang ada percetakan mulai yang berskala besar hingga sekecil apapun yang bisa dimanfaatkan untuk produksi sebuah buku".

Plt Kepala Perpustakaan Nasional RI Lily AS mengatakan, sebagai praktisi perbukuan, dia lebih menekankan bahwa industri buku nasional belum mendapat perhatian yang optimal dari perpustakaan nasional. Padahal, kata dia, untuk menumbuhkan gemar membaca sesuai amanat Undang-Undang Perpustakaan, usaha gemar membaca harus melibatkan semua komponen masyarakat.
"Sebagai contoh, Indonesia masih terbelakang jauh dari India dan Amerika dalam soal industri buku," ujarnya.
Tercatat, dari 476 penerbit yang ada di Indonesia, buku-buku yang baru terbit per tahun hanya 12.000 eksemplar. Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia 220 juta jiwa.
Angka itu bisa dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang menerbitkan buku baru setiap tahun hingga 75.000 eksemplar, disusul India sebanyak 25.000 eksemplar.

Persoalannya kemudian, sistem pemasaran yang bermain diantara tiga aktor utama, penerbit, distributor dan toko buku ini, telah menciptakan perputaran yang mengakibatkan adanya penambahan nilai jual, yang kemudian mulai dirasakan mahal oleh konsumen. Dalam mekanisme ini, ada konsekuensi rabat yang berlaku dan cukup dilematis utamanya terhadap penerbit buku. Jejaring ini umumnya menyepakati penggunaan sistem konsinyasi (titip jual) dengan kisaran mencapai 50 – 55%. Penjelasannya, jumlah diskon tersebut adalah hasil presentasi yang telah memperhitungkan royalti penulis, biaya dan laba penerbit, serta keuntungan untuk toko buku dan distributornya. Jadi, dapat dibayangkan jika harga buku tidak dinaikkan maka sudah pasti penerbit akan pingsan. Apalagi jika biaya bahan baku produksi (seperti kertas dan tinta) turut berfluktuasi dimana penerbitlah yang harus menanggung seluruhnya, maka masa depan usaha penerbitan akan semakin terpuruk. Berfluktuasinya harga buku demikian menjadi jelas, yang tidak lain sangat dipengaruhi oleh jejaring pemasaran yang terpola secara konvensional. Sangat sulit memutus rantai jaringan tersebut sebab pola pemasaran ini sudah berlaku secara umum diantara ketiga aktor industri perbukuan. Tidak ada satu pihak yang bisa disalahkan untuk kondisi tersebut, karena jejaring ini kompleks, sementara penerbit sendiri tidak berdaya untuk menembus toko buku secara langsung.

Strategi Bertahan dan Eksistensi Buku

Kendati rumitnya jaringan pemasaran, sulit dipungkiri bahwa para penerbit tetap akan menjadikan toko buku yang besar (seperti Gramedia dan Toga Mas) sebagai mainstream pasarnya. Jadi, suka atau tidak para penerbit akhirnya kebanyakan memilih untuk menyesuaikan diri dengan isu yang berkembang di pasar bukunya. Itulah yang menyebabkan banyak penerbit sejak 2004 hingga sekarang ini mengubah haluannya dengan hanya menerbitkan buku-buku yang masuk dalam mainstream pasar atau sesuai minat konsumen. Dalam penuturan Mas Ade, Jika buku yang diproduksi kurang trend, maka sebentar saja akan segera disingkirkan dari floor display utama toko buku, karena termasuk dalam kategori tidak laris. Sehingga mengikuti arus pasar menjadi strategi untuk tetap berproduksi atau sebagai cara menjaga kelangsungan penerbitannya. Memberi contoh, kekhawatiran sebagian penerbit, khususnya di Yogyakarta, melihat dinamika perbukuan yang makin sedikit menerbitkan buku-buku 'kekhasan Jogja' di awal tahun 1990-an.
Satu catatan yang perlu diketahui, bahwa cukup banyak naskah-naskah yang tersingkir dari dapur penerbitan akibat harus menyesuaikan dengan minat pasar. Hal ini karena penerbit mempertimbangkan nilai jual pada produk buku yang akan dihasilkan. Kalau buku kurang diminati, tentunya akan merugikan penerbit atas biaya produksi yang harus dikeluarkan. Dalam kalkulasi teknisnya, biaya produksi terutama digunakan untuk mencetak buku dengan jumlah yang banyak agar harga jual bisa ditekan. Jadi, jika buku cetak tersebut tidak laku, sudah pasti kerugian akan ditanggung penerbit yang juga dapat mempengaruhi citra penerbitannya. Pada akhirnya sangat beralasan jika penerbit lebih mengutamakan minat pasar.

Akan tetapi hal ini sedikit dapat teratasi dengan lahirnya teknologi POD (Print on Demand) dalam dunia penerbitan. Mekanisme POD menawarkan pencetakan buku sesuai permintaan. Jadi buku dapat dicetak meski hanya 1 eksemplar, atau tergantung jumlah yang diinginkan. Mesin POD ini, menyelamatkan naskah-naskah yang dianggap kurang laku atau tidak diminati untuk tetap memenuhi kebutuhan sebagian konsumen lainnya. Keuntungan lain POD adalah dapat mempermudah orang awam memasuki dunia penerbitan. Begitu pula dengan para penulis baru yang membutuhkan ruang publikasi juga akan lebih mudah dengan POD. Kehadiran POD pun akhirnya banyak direspon oleh industri penerbitan di Jogja, mengingat hal ini juga dapat membantu kesinambungan penerbitannya.

Industri Cetak Tidak Akan Mati

Arus digitalisasi mau tidak mau harus ditanggap. Penerbit Gramedia, menurut Wandi, juga melakukan eksperimen dan eksplorasi terhadap segala bentuk kemungkinan dari tren digital ini. “Kami juga menerbitkan eBook dalam skala yang masih terbatas saat ini, karena kami baru memiliki 5.500 judul dalam bentuk eBook. Inisiatif serupa juga dilakukan oleh masing-masing unit usaha di Grup Kompas Gramedia, baik grup koran maupun grup majalah,” kata Wandi.
Sementara itu, buku terjemahan biasanya mendapat kendala dari penerbit asli yang masih enggan untuk memberikan hak penerbitan e-booknya. Sebab itu, Gramedia berkonsentrasi dengan buku lokal. Pada prinsipnya, semua buku yang Gramedia terbitkan akan diterbitkan juga sebagai e-book. “Tahun 2011 saja kami menerbitkan 6.400 judul, terjemahan maupun lokal. sekitar 3.400 judul yang lokal itu pada prinsipnya akan kami terbitkan juga secara e-book,” kata Wandi.
Imbas arus digital tidak menggoyahkan Gramedia untuk menerbitkan edisi cetak. Menurut Wandi, buku cetak khusus untuk Indonesia (dan mungkin dunia ketiga pada umumnya) masih akan panjang umurnya, karena pertama, secara umum infrastruktur digital di Indonesia belum berkembang dengan baik, dan kesenjangan antara kaya-miskin, kota-desa, masih amat lebar. “Seberapa panjang? Jawabnya, sepanjang waktu yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur yang baik sampai pelosok,” kata Wandi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar