Problematika Industri Perbukuan
: Pemasaran dan Fluktuasi Harga
Jika
melirik sekilas kamar industri perbukuan, nampak tidak ada persoalan yang
berarti. Dalam pengalaman Mas Ade (pemantik diskusi MCKM) memantau industri
perbukuan di DIY, sembari membandingkan dengan hasil penelitiannya tentang
sejarah perkembangannya pada kurun waktu 1998 – 2007, proses industri perbukuan
berlangsung datar-stabil dengan aktivitas yang tidak berubah. Pemantik melihat
bahwa alur atau proses produksi buku dari dulu sampai sekarang sama saja, yakni
produksi akan selalu dimulai dari menemukan naskah, tahap pracetak, kemudian
mencetak, hingga siap didistribusikan. Dalam setiap proses tersebut relatif
berjalan lancar. Terlebih industri perbukuan dalam konteks Yogyakarta, nyaris
tanpa hambatan karena ditunjang oleh berbagai kemudahan mendapatkan semua
komponen pendukung untuk penerbitan sebuah buku. Bahwa, "dengan jumlah
kampus yang banyak,kita bisa menemukan sekian banyak penulis; dengan
menjamurnya prodi desain grafis maka sekian banyak desain grafis bisa digunakan
untuk buku; bahkan hampir di setiap gang ada percetakan mulai yang berskala
besar hingga sekecil apapun yang bisa dimanfaatkan untuk produksi sebuah
buku".
Plt Kepala Perpustakaan Nasional RI Lily AS
mengatakan, sebagai praktisi perbukuan, dia lebih menekankan bahwa industri
buku nasional belum mendapat perhatian yang optimal dari perpustakaan nasional.
Padahal, kata dia, untuk menumbuhkan gemar membaca sesuai amanat Undang-Undang
Perpustakaan, usaha gemar membaca harus melibatkan semua komponen masyarakat.
"Sebagai contoh, Indonesia masih terbelakang
jauh dari India dan Amerika dalam soal industri buku," ujarnya.
Tercatat, dari 476 penerbit yang ada di
Indonesia, buku-buku yang baru terbit per tahun hanya 12.000 eksemplar.
Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia 220 juta jiwa.
Angka itu bisa dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang menerbitkan buku baru setiap tahun hingga 75.000 eksemplar, disusul India sebanyak 25.000 eksemplar.
Angka itu bisa dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang menerbitkan buku baru setiap tahun hingga 75.000 eksemplar, disusul India sebanyak 25.000 eksemplar.
Persoalannya
kemudian, sistem pemasaran yang bermain diantara tiga aktor utama, penerbit,
distributor dan toko buku ini, telah menciptakan perputaran yang mengakibatkan
adanya penambahan nilai jual, yang kemudian mulai dirasakan mahal oleh
konsumen. Dalam mekanisme ini, ada konsekuensi rabat yang berlaku dan cukup
dilematis utamanya terhadap penerbit buku. Jejaring ini umumnya menyepakati
penggunaan sistem konsinyasi (titip jual) dengan kisaran mencapai 50 – 55%.
Penjelasannya, jumlah diskon tersebut adalah hasil presentasi yang telah
memperhitungkan royalti penulis, biaya dan laba penerbit, serta keuntungan
untuk toko buku dan distributornya. Jadi, dapat dibayangkan jika harga buku
tidak dinaikkan maka sudah pasti penerbit akan pingsan. Apalagi jika biaya
bahan baku produksi (seperti kertas dan tinta) turut berfluktuasi dimana
penerbitlah yang harus menanggung seluruhnya, maka masa depan usaha penerbitan
akan semakin terpuruk. Berfluktuasinya harga buku demikian menjadi jelas, yang
tidak lain sangat dipengaruhi oleh jejaring pemasaran yang terpola secara
konvensional. Sangat sulit memutus rantai jaringan tersebut sebab pola
pemasaran ini sudah berlaku secara umum diantara ketiga aktor industri
perbukuan. Tidak ada satu pihak yang bisa disalahkan untuk kondisi tersebut,
karena jejaring ini kompleks, sementara penerbit sendiri tidak berdaya untuk
menembus toko buku secara langsung.
Strategi
Bertahan dan Eksistensi Buku
Kendati
rumitnya jaringan pemasaran, sulit dipungkiri bahwa para penerbit tetap akan
menjadikan toko buku yang besar (seperti Gramedia dan Toga Mas) sebagai
mainstream pasarnya. Jadi, suka atau tidak para penerbit akhirnya kebanyakan
memilih untuk menyesuaikan diri dengan isu yang berkembang di pasar bukunya.
Itulah yang menyebabkan banyak penerbit sejak 2004 hingga sekarang ini mengubah
haluannya dengan hanya menerbitkan buku-buku yang masuk dalam mainstream pasar
atau sesuai minat konsumen. Dalam penuturan Mas Ade, Jika buku yang diproduksi
kurang trend, maka sebentar saja akan segera disingkirkan dari floor display
utama toko buku, karena termasuk dalam kategori tidak laris. Sehingga mengikuti
arus pasar menjadi strategi untuk tetap berproduksi atau sebagai cara menjaga
kelangsungan penerbitannya. Memberi contoh, kekhawatiran sebagian penerbit,
khususnya di Yogyakarta, melihat dinamika perbukuan yang makin sedikit
menerbitkan buku-buku 'kekhasan Jogja' di awal tahun 1990-an.
Satu catatan yang perlu
diketahui, bahwa cukup banyak naskah-naskah yang tersingkir dari dapur
penerbitan akibat harus menyesuaikan dengan minat pasar. Hal ini karena
penerbit mempertimbangkan nilai jual pada produk buku yang akan dihasilkan.
Kalau buku kurang diminati, tentunya akan merugikan penerbit atas biaya
produksi yang harus dikeluarkan. Dalam kalkulasi teknisnya, biaya produksi
terutama digunakan untuk mencetak buku dengan jumlah yang banyak agar harga
jual bisa ditekan. Jadi, jika buku cetak tersebut tidak laku, sudah pasti
kerugian akan ditanggung penerbit yang juga dapat mempengaruhi citra
penerbitannya. Pada akhirnya sangat beralasan jika penerbit lebih mengutamakan
minat pasar.
Akan tetapi hal ini sedikit
dapat teratasi dengan lahirnya teknologi POD (Print on Demand) dalam dunia
penerbitan. Mekanisme POD menawarkan pencetakan buku sesuai permintaan. Jadi
buku dapat dicetak meski hanya 1 eksemplar, atau tergantung jumlah yang diinginkan.
Mesin POD ini, menyelamatkan naskah-naskah yang dianggap kurang laku atau tidak
diminati untuk tetap memenuhi kebutuhan sebagian konsumen lainnya. Keuntungan
lain POD adalah dapat mempermudah orang awam memasuki dunia penerbitan. Begitu
pula dengan para penulis baru yang membutuhkan ruang publikasi juga akan lebih
mudah dengan POD. Kehadiran POD pun akhirnya banyak direspon oleh industri
penerbitan di Jogja, mengingat hal ini juga dapat membantu kesinambungan
penerbitannya.
Industri Cetak Tidak Akan Mati
Arus
digitalisasi mau tidak mau harus ditanggap. Penerbit Gramedia, menurut Wandi,
juga melakukan eksperimen dan eksplorasi terhadap segala bentuk kemungkinan
dari tren digital ini. “Kami juga menerbitkan eBook dalam skala yang masih
terbatas saat ini, karena kami baru memiliki 5.500 judul dalam bentuk eBook.
Inisiatif serupa juga dilakukan oleh masing-masing unit usaha di Grup Kompas
Gramedia, baik grup koran maupun grup majalah,” kata Wandi.
Sementara
itu, buku terjemahan biasanya mendapat kendala dari penerbit asli yang masih
enggan untuk memberikan hak penerbitan e-booknya. Sebab itu, Gramedia
berkonsentrasi dengan buku lokal. Pada prinsipnya, semua buku yang Gramedia
terbitkan akan diterbitkan juga sebagai e-book. “Tahun 2011 saja kami
menerbitkan 6.400 judul, terjemahan maupun lokal. sekitar 3.400 judul yang
lokal itu pada prinsipnya akan kami terbitkan juga secara e-book,” kata Wandi.
Imbas
arus digital tidak menggoyahkan Gramedia untuk menerbitkan edisi cetak. Menurut
Wandi, buku cetak khusus untuk Indonesia (dan mungkin dunia ketiga pada
umumnya) masih akan panjang umurnya, karena pertama, secara umum infrastruktur
digital di Indonesia belum berkembang dengan baik, dan kesenjangan antara
kaya-miskin, kota-desa, masih amat lebar. “Seberapa panjang? Jawabnya,
sepanjang waktu yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur yang baik
sampai pelosok,” kata Wandi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar