Senin, 29 Oktober 2012

Pengembangan Buku Teks


PENGERTIAN BUKU TEKS PELAJARAN
Secara umum pengertian buku adalah sebagai karya tulis ilmiah baik hasil tinjauan maupun hasil penelitian yang disusun sedemikian rupa menurut persyaratan tertentu yang ditetapkan dan diterbitkan.  Menurut Totok Djuroto buku dibedakan berdasarkan tujuannya, yaitu buku teks, buku pegangan, dan buku pelajaran.
Buku teks biasanya dibuat sebagai sumber informasi ilmiah yang digunakan baik oleh masyarakat umumnya maupun oleh kalangan masyarakat ilmiah, yang dibuat oleh ahli keilmuan tertentu. dosen  atau widyaiswara  untuk mata kuliah, mata diklat  yang diajarkannya, bisa jadi seorang guru ,  dosen dan widyaiswara membuat buku pelajaran  yang tidak diajarkannya asal menguasai ilmunya.

PRINSIP- PRINSIP PEMBUATAN BUKU TEKS PELAJARAN
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan buku  antara lain prinsip relevansi, konsistensi dan kecukupan
Prinsip relevansi artinya keterkaitan, materi yang ditulis hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi yang ingin dicapai
Prinsip konsistensi artinya keajegan, jika kompetensi dasar yang harus dikuasai empat macam maka bahasan yang ada pada buku juga harus meliputi empat macam.
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya mencukupi dalam membantu peserta diklat mengusai kompetensi yang akan diajarkan, materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak, jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai kompetensi standar sebaliknya jika terlalu banyak akan membuang buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya

KETENTUAN KETENTUAN PEMBUATAN BUKU TEKS PELAJARAN

 persyaratan yang berkaitan dengan isi
1.    Memuat sekurang kurangya materi minimal yang harus dikuasai peserta didik/diklat
2.    Relevan dengan tujuan dan sesuai dengan kemampuan yang akan dicapai
3.    Sesuai dengan ilmu pengetahuan yang bersangkutan
4.    Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
5.    Sesuai dengan jenjang dan sasararan
6.    Isi dan bahan mengacu pengembangan konsep, prinsip, teori
7.    Tidak mengandung muatan politis maupun hal yang berbau sara
Persyaratan  penyajian
1.    Uraian teratur sesuai dengan urutan setiap bab
2.    Ualing memperkuat dengan bahan lain dan kontekstual
3.    Menarik minat dan perhatian sasaran pembaca
4.    Menantang dan merangsang untuk dibaca dan dipelajari
5.    Mengacu pada aspek koginitif, afektif dan psikomotor
6.    Penyajian yang menggunakan bahasan ilmiah dan formal
Persyaratan yang berkaitan dengan bahasa
1.    Menggunakan bahasa Indonesia yang benar
2.    Menggunakan kalimat yang sesuai dengan kematangan dan perkembangan  sasaran pembaca
3.    Menggunakan istilah, kosakata, indeks, symbol yang mempermudah pemahaman
4.    Menggunakan kata kata terjemahan yang dibakukan
Persyaratan yang berkaitan dengan Ilustrasi
1.    Relevan degan konsep, prinsip yang disajikan.
2.    Tidak mengunakan kesinambungan antar kalimat. Antar bagian dan antar paragraph.
3.    Merupakan bagian terpadu dari bahan ajar
4.    Jelas, baik dan merupakan hal-hal esensial yang membantu memperjelas materi

BAGIAN-BAGIAN DARI BUKU TEKS PELAJARAN
Umumnya  buku terdiri dari tiga bagian yang mencakup :
Bagian awal yang berisi :
1.    Halaman cover, bersisi tentang judul, pengarang, gambar sampul , nama departemen, tahun terbit.
2.    Halaman judul , berisi judul, pengarang/penulis, gambar sampul,  tahun terbit, nama depertemen
3.    Daftar isi, yang membuat, judul bab, sub bab, dan nomor halaman
4.    Daftar lain seperti : daftar gambar, daftar table, daftar lampiran.
Bagian isi
Bagian ini berisi bab-bab, dan setiap bab terdiri sub bab-sub bab dan pokok pokok bahasan yang menjadi inti naskah buku dan memuat uraian penjelasan, proses operasional atau langkah kerja dari setiap bab maupun sub bab. Dengan demikian paragraf merupakan unit terkecil suatu pokok bahasan. Paragraf tersebut harus saling mendukung dan merupakan suatu kesatuan yang koheren. Apabila diperlukan penjelasan dan uaraian dari masing-masing bab dilengkapi dengan table, bagan, gambar dan ilustrasi lain. pada baigian isi buku dikelompokkan menjadi beberapa bab, dalam setiap bab disamping berisi informasi umumnya diakhiri dengan rangkuman dan latihan soal.
Bagian akhir
Pada bagian akhir dari suatu buku biasanya berisi antara lain :
1.    lampiran, bila lampiran lebih dari satu lembar harus diberi nomor urut arab
2.    Glosarium (jika ada), kata/istilah yang berhubungan dengan uraian diktat sehingga memudahkan pemahaman pembanca
3.    Kepustakaan, ada beberapa cara menulkiskan kepustakaan, namum namum demi keseragaman dipilih satu dari sekian cara tersebut, sengan ketentuan sebagai berikut :
1.    Hendaknya digunakan buku acuan yang relevan dengan bahan kajian yang akan ditulis, tidak ketinggagalan perkembangan teknologi dan sesuai dengan disiplin ilmu
2.    kepustakaan disusun dengan urutan  abjad,

PENGGUNANAN BAHASA INDONESIA DALAM PENULISAN BUKU TEKS PELAJARAN
Penulisan buku teks pelajaran hendaknya menggunakan bahasa jelas, tepat formal dan lugas. Kejelasan dan ketepatan isi dapat diwujudkan dengan menggunakan kata dan istilah yang jelas`dan tepat, kalimat yang tidak berbelit belit dan struktur alinea yang runtut,kelugasan dan keformalan gaya bahasa digunakakan dengan menggunakan kalimat fasif, hindarilah pengunaan kata kata sepeti saya kami,  kemudian tuliskan kegiatan yang dilakukan penulis, seperti penulis atau peneliti tapi inipun hindari sesedikit mungkin.dalam menggunakan bahasa Indonesia baku hendaknya memperhatikan :
Kaidah  Bahasa Indonesia yang digunakan adalah ejaan yang   disempunakan (EYD)
Penerapan kaidah Ejaan
Pemakaian tanda baca


PENGETIKAN NASKAH BUKU TEKS PELAJARAN
Dalam pengetikan naskah diktat ada beberapa hal yang harus diperhatikan
Kertas yang digunakan adalah kertas jenis HVS putih, ukuran kuarto atau polio tergantung selera tetapi umunya ukuran kuarti, mbidang pengetikan pun berjaeak  4 cm dari tepi kiri, dan 3 cm tepi atas, tepi kanan dan tepi bawah, sebuah alinea tidak dimulai pada bagian halaman yang hanya memuat kurang dari tiga baris.
Diktat ditulis dengan computer yang baku baik jenis huruf maupun ukuran hurufnya, pengetikan dengan menggunakan rata kanan dan tidak boleh mengorbankan aturan spasi atarkata dalam teks. pelajaran
Awal alinea diketik npada ketukan keenam dari batas kiri bidang pengetikan . sesudah tand baca titik, titik dua, titik koma, dan koma hendaknya diberi satu ketikan kosong. Istilah tertentu yang belum lazim ditulis digaris bawahi atau ditulis dengan huruf miring. Dalam pengetikan juga harus diperhatkan antara lain :
1.           Jenis dan ukuran huruf
2.           modus huruf
3.           spasi
4.           tablel dan gambar


ILUSTRASI DAN PERWAJAHAN
Buku  teks walaupun dibuat oleh seorang guru, maupun widyaiswara yang pada jaman komputer belum banyak dipergunakan ilustrasi dibuat dengan gambar maupun foto dilakukan oleh tenaga ahli tertentu yang biasa desebut ilustrator, tetapi setelah komputer banyak digunakan, karena fasilitas untuk pemakaian ilustrasi ada pada komputer , ilustrasi bisa ditulis dan diatur sendiri, karena pengeditan dan perancangan wajah sudah ada fasilitasnya dalam hal ilisutrasi seorang penulis buku teks haris memperhatikan masalah masalah :
Format buku teks  pelajaran agar enak dibaca
Tata letak untuk mempermudah pemahaman isi buku dan mendapatkan kenyamanan membaca.
Tipografi yang menyangkut nama dan jenis huruf, panjang baris, ukuran huruf
ilustrasi agar sajian visual yang tidak mungkin disampaikan dengan kata dapat disajikan dengan gambar, ilustrasi sangat menarik jika berupa foto foto yang berwarna

http://aguswuryanto.wordpress.com/2010/09/02/pembuatan-buku-teks-pelajaran/

Industri Buku di Indonesia


Problematika Industri Perbukuan : Pemasaran dan Fluktuasi Harga

Jika melirik sekilas kamar industri perbukuan, nampak tidak ada persoalan yang berarti. Dalam pengalaman Mas Ade (pemantik diskusi MCKM) memantau industri perbukuan di DIY, sembari membandingkan dengan hasil penelitiannya tentang sejarah perkembangannya pada kurun waktu 1998 – 2007, proses industri perbukuan berlangsung datar-stabil dengan aktivitas yang tidak berubah. Pemantik melihat bahwa alur atau proses produksi buku dari dulu sampai sekarang sama saja, yakni produksi akan selalu dimulai dari menemukan naskah, tahap pracetak, kemudian mencetak, hingga siap didistribusikan. Dalam setiap proses tersebut relatif berjalan lancar. Terlebih industri perbukuan dalam konteks Yogyakarta, nyaris tanpa hambatan karena ditunjang oleh berbagai kemudahan mendapatkan semua komponen pendukung untuk penerbitan sebuah buku. Bahwa, "dengan jumlah kampus yang banyak,kita bisa menemukan sekian banyak penulis; dengan menjamurnya prodi desain grafis maka sekian banyak desain grafis bisa digunakan untuk buku; bahkan hampir di setiap gang ada percetakan mulai yang berskala besar hingga sekecil apapun yang bisa dimanfaatkan untuk produksi sebuah buku".

Plt Kepala Perpustakaan Nasional RI Lily AS mengatakan, sebagai praktisi perbukuan, dia lebih menekankan bahwa industri buku nasional belum mendapat perhatian yang optimal dari perpustakaan nasional. Padahal, kata dia, untuk menumbuhkan gemar membaca sesuai amanat Undang-Undang Perpustakaan, usaha gemar membaca harus melibatkan semua komponen masyarakat.
"Sebagai contoh, Indonesia masih terbelakang jauh dari India dan Amerika dalam soal industri buku," ujarnya.
Tercatat, dari 476 penerbit yang ada di Indonesia, buku-buku yang baru terbit per tahun hanya 12.000 eksemplar. Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia 220 juta jiwa.
Angka itu bisa dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang menerbitkan buku baru setiap tahun hingga 75.000 eksemplar, disusul India sebanyak 25.000 eksemplar.

Persoalannya kemudian, sistem pemasaran yang bermain diantara tiga aktor utama, penerbit, distributor dan toko buku ini, telah menciptakan perputaran yang mengakibatkan adanya penambahan nilai jual, yang kemudian mulai dirasakan mahal oleh konsumen. Dalam mekanisme ini, ada konsekuensi rabat yang berlaku dan cukup dilematis utamanya terhadap penerbit buku. Jejaring ini umumnya menyepakati penggunaan sistem konsinyasi (titip jual) dengan kisaran mencapai 50 – 55%. Penjelasannya, jumlah diskon tersebut adalah hasil presentasi yang telah memperhitungkan royalti penulis, biaya dan laba penerbit, serta keuntungan untuk toko buku dan distributornya. Jadi, dapat dibayangkan jika harga buku tidak dinaikkan maka sudah pasti penerbit akan pingsan. Apalagi jika biaya bahan baku produksi (seperti kertas dan tinta) turut berfluktuasi dimana penerbitlah yang harus menanggung seluruhnya, maka masa depan usaha penerbitan akan semakin terpuruk. Berfluktuasinya harga buku demikian menjadi jelas, yang tidak lain sangat dipengaruhi oleh jejaring pemasaran yang terpola secara konvensional. Sangat sulit memutus rantai jaringan tersebut sebab pola pemasaran ini sudah berlaku secara umum diantara ketiga aktor industri perbukuan. Tidak ada satu pihak yang bisa disalahkan untuk kondisi tersebut, karena jejaring ini kompleks, sementara penerbit sendiri tidak berdaya untuk menembus toko buku secara langsung.

Strategi Bertahan dan Eksistensi Buku

Kendati rumitnya jaringan pemasaran, sulit dipungkiri bahwa para penerbit tetap akan menjadikan toko buku yang besar (seperti Gramedia dan Toga Mas) sebagai mainstream pasarnya. Jadi, suka atau tidak para penerbit akhirnya kebanyakan memilih untuk menyesuaikan diri dengan isu yang berkembang di pasar bukunya. Itulah yang menyebabkan banyak penerbit sejak 2004 hingga sekarang ini mengubah haluannya dengan hanya menerbitkan buku-buku yang masuk dalam mainstream pasar atau sesuai minat konsumen. Dalam penuturan Mas Ade, Jika buku yang diproduksi kurang trend, maka sebentar saja akan segera disingkirkan dari floor display utama toko buku, karena termasuk dalam kategori tidak laris. Sehingga mengikuti arus pasar menjadi strategi untuk tetap berproduksi atau sebagai cara menjaga kelangsungan penerbitannya. Memberi contoh, kekhawatiran sebagian penerbit, khususnya di Yogyakarta, melihat dinamika perbukuan yang makin sedikit menerbitkan buku-buku 'kekhasan Jogja' di awal tahun 1990-an.
Satu catatan yang perlu diketahui, bahwa cukup banyak naskah-naskah yang tersingkir dari dapur penerbitan akibat harus menyesuaikan dengan minat pasar. Hal ini karena penerbit mempertimbangkan nilai jual pada produk buku yang akan dihasilkan. Kalau buku kurang diminati, tentunya akan merugikan penerbit atas biaya produksi yang harus dikeluarkan. Dalam kalkulasi teknisnya, biaya produksi terutama digunakan untuk mencetak buku dengan jumlah yang banyak agar harga jual bisa ditekan. Jadi, jika buku cetak tersebut tidak laku, sudah pasti kerugian akan ditanggung penerbit yang juga dapat mempengaruhi citra penerbitannya. Pada akhirnya sangat beralasan jika penerbit lebih mengutamakan minat pasar.

Akan tetapi hal ini sedikit dapat teratasi dengan lahirnya teknologi POD (Print on Demand) dalam dunia penerbitan. Mekanisme POD menawarkan pencetakan buku sesuai permintaan. Jadi buku dapat dicetak meski hanya 1 eksemplar, atau tergantung jumlah yang diinginkan. Mesin POD ini, menyelamatkan naskah-naskah yang dianggap kurang laku atau tidak diminati untuk tetap memenuhi kebutuhan sebagian konsumen lainnya. Keuntungan lain POD adalah dapat mempermudah orang awam memasuki dunia penerbitan. Begitu pula dengan para penulis baru yang membutuhkan ruang publikasi juga akan lebih mudah dengan POD. Kehadiran POD pun akhirnya banyak direspon oleh industri penerbitan di Jogja, mengingat hal ini juga dapat membantu kesinambungan penerbitannya.

Industri Cetak Tidak Akan Mati

Arus digitalisasi mau tidak mau harus ditanggap. Penerbit Gramedia, menurut Wandi, juga melakukan eksperimen dan eksplorasi terhadap segala bentuk kemungkinan dari tren digital ini. “Kami juga menerbitkan eBook dalam skala yang masih terbatas saat ini, karena kami baru memiliki 5.500 judul dalam bentuk eBook. Inisiatif serupa juga dilakukan oleh masing-masing unit usaha di Grup Kompas Gramedia, baik grup koran maupun grup majalah,” kata Wandi.
Sementara itu, buku terjemahan biasanya mendapat kendala dari penerbit asli yang masih enggan untuk memberikan hak penerbitan e-booknya. Sebab itu, Gramedia berkonsentrasi dengan buku lokal. Pada prinsipnya, semua buku yang Gramedia terbitkan akan diterbitkan juga sebagai e-book. “Tahun 2011 saja kami menerbitkan 6.400 judul, terjemahan maupun lokal. sekitar 3.400 judul yang lokal itu pada prinsipnya akan kami terbitkan juga secara e-book,” kata Wandi.
Imbas arus digital tidak menggoyahkan Gramedia untuk menerbitkan edisi cetak. Menurut Wandi, buku cetak khusus untuk Indonesia (dan mungkin dunia ketiga pada umumnya) masih akan panjang umurnya, karena pertama, secara umum infrastruktur digital di Indonesia belum berkembang dengan baik, dan kesenjangan antara kaya-miskin, kota-desa, masih amat lebar. “Seberapa panjang? Jawabnya, sepanjang waktu yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur yang baik sampai pelosok,” kata Wandi.



Rancangan Pembuatan Buku Teks Pelajaran


Latar belakang
Kami memilih pelajaran sejarah sebagai matapelajaran yang akan di buat dalam bentuk buku tekspelajaran, dalam mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar Cetak (PBAC) karena dari kelompok kami sendiriadaanggota kelompok yang basicnya merupakan jurusan IPS, dan kami memiliki teman lulusan pendidikansejarah yang turut serta membantu kami dalampembuatan buku teks pelajaran ini.
Sasaran dalam penulisan buku teks sejarah iniyaitu siswa SMP kelas VII, karena materi yang kami berikan masih kisaran sejarah Indonesia. Selain itusetiap dari anggota kelompok kami pernah belajartentang materi yang akan kami buat dalam penulisanbuku teks pelajaran.


Tujuan penulisan buku
Tujuan penulisan buku yang kami buat yaitu untukmemenuhi kebutuhan akan buku teks pelajaran bagipara siswa SMP kelas VII dan juga untuk memenuhitugas akhir mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar Cetak.


Prosedur penulisan
Dalam penulisan buku teks ini kami menggunakanprosedur penulisan “Himpunan” dimana setiap materitidak memiliki keterkaitan satu sama lain sehinggamateri yang diajarkan bias dimulai dari BAB  manapun.


Materi
    Dalam penulisan buku teks pelajaran sejarah ini kami akan membagi menjadi 4 BAB.  Dimana pada BAB I berisi tentang kehidupan pada masa Pra Aksara di Indonesia, dan pada BAB II berisi tentang perkembangan masyarakat ,kebudayaan dan pemerintahanpada masa Hindu Budha serta peninggalan – peninggalannya, kemudian pada BAB III beris itentangperkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam serta peninggalan-peninggalannya. Dan BAB terakhir membahas tentangperkembangan masyarakat ,kebudayaan dan pemerintahpada masa Kolonial Eropa.


Buku Rujukan,Buku Metodologi Pembelajaran dan Buku Penyusunan  Buku Teks pelajaran
  • Buku rujukan ( Referensi)
Asmito. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta : Depdikbud

Kartodirdjo, Sartono, dkk. 1976. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : PT. Grafitasi

  • Buku Metodologi Pembelajaran
Marno M.Idris.Strategi dan Metode Pengajaran. Jakarta : Ar-Ruzz Media

Moh Sholeh Hamid.2011. Metode Edutainment.Jakarta : DIVA

AdiW. Gunawan. Genius Learning Strategy. Jakarta : Gramedia
  • Buku Penyusunan Buku Teks
Dalam penyusunan buku teks ini kami menggunakan bukuPenulisan Buku Teks Pelajaran olehProf.Dr.B.P.Sitepu,M.A.

---------------------------------------


Mata pelajaran           : Sejarah
Kelas/Semester           : VII / 1
StandarKompetensi        : 1.Memahamilingkungankehidupanmanusia
KompetensiDasar       : Mendeskripsikan kehidupan pada masa Pra Aksara di Indonesia


Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari materi ini,siswa kelas VII semester 1 akan dapat mengidentifikasi masa pra-aksara di Indonesia dengan tepat sesuai pada buku teks pelajaran siswa.

Indikator :
  • Menjelaskan pengertian masa PraAksara 
  • Menjelaskankan  kurun waktu masa Pra Aksara 
  • Menyebutkan jenis-jenis manusia purba di indonesia 
  • Mengidentifikasi jenis-jenis manusiaIndonesia yang hidup pada masa Pra Aksara 
  • Menjelaskan perkembangan kehidupan pada masa Pra Aksara 
  • Menyebutkan peralatan kehidupan yang dipergunakan pada masa Pra Aksara 
  • Menjelaskan pembagian zaman berdasarkan hasil kebudayaan yang ditinggalkan pada masa pra aksara. 
  • Mengidentifikasi peninggalan-peninggalan kebudayaan pada masa Pra Aksara

Materi Pembelajaran:
  • Pengertian dan kurun waktu masa Pra Aksara 
  • Jenis-jenis manusia Indonesia yang hidup pada masa Pra Aksara 
  • Perkembangan kehidupan pada masa Pra Aksara dan peralatan kehidupan yang dipergunakan 
  • Peninggalan-peninggalan kebudayaan pada masaPra Aksara
----------------------------------------


Mata pelajaran           : Sejarah
Kelas/Semester           : VII / 1
Standar Kompetensi    : 2. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Budha sampai masa kolonial Eropa
Kompetensi Dasar      : 2.1 Mendeskripsikanperkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahanpada masa Hindu Budha serta peninggalan – peninggalannya.

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini, siswa kelas VII semester 1 akan dapat mengidentifikasi peninggalan-peninggalan agama Hindu-Budha di Indonesia dengan benar sesuai pada buku teks pelajaran .

Indikator:
  • Mendeskripsikan masuk dan berkembangnya Agama Hindu Budha di Indonesia. 
  • Menunjukkan pada peta daerah – daerah yang dipengaruhi unsur Hindu Budha di Indonesia 
  • Menyusun kronologi perkembangan kerajaan Hindu Budha di berbagai wilayah Indonesia. 
  • Mengidentifikasi dan member contohpeninggalan – peninggalan sejarah kerajaan yang bercorak Hindu Budha di berbagaidaerah. 
  • Menunjukkan tempat – tempat peninggalan Kerajaan Hindu Budha pada peta.

Materi Pelajaran
  • Proses masuk dan bekembangnya Agama Hindu Budha di Indonesia. 
  • Daerah –daerah yang dipengaruhi unsur Hindu Budha di Indonesia 
  • Perkembangan kerajaan Hindu Budha di berbagaiwilayah Indonesia. 
  • Contoh peninggalan – peninggalan sejarahkerajaan yang bercorak Hindu Budha di berbagai daerah. 
  • Tempat – tempat peninggalan Kerajaan Hindu Budha.
----------------------------------------


Mata pelajaran           : Sejarah
Kelas/Semester           : VII / 1
Standar Kompetensi    : 2. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Budha sampai masa kolonial Eropa
Kompetensi Dasar      : 2.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam serta peninggalan-peninggalannya.

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini, siswa kelas VII semester 1 akan dapat menjelaskan perkembangan Islam di Indonesia dengan tepat sesuai dalam buku tekspelajaran dan pengalaman belajar siswa.

Indikator:
  • Melacak proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia 
  • Mendeskripsikan saluran – saluran Islamisasi di Indonesia 
  • Menjelaskan cara yang digunakan Wali Songo atau ulama lain dalam menyebarkan Islam 
  • Membaca dan membuat peta jalur serta daerah penyebaran Islam di Indonesia 
  • Menyusun kronologi perkembangan Kerajaan Islam di berbagai wilayah Indonesia 
  • Mengidentifikasi dan memberi contoh peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di berbagai daerah

Materi Pelajaran:
  • Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia 
  • Saluran – saluran Islamisasi di Indonesia 
  • Cara yang digunakan Wali Songo atau ulama lain dalam menyebarkan Islam 
  • Peta jalur serta daerah penyebaran Islam di Indonesia 
  • Kronologi perkembangan Kerajaan Islam di berbagai wilayah Indonesia 
  • Contoh peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di berbagai  daerah

------------------------------------------

Mata pelajaran           : Sejarah
Kelas/Semester           : VII / 1
Standar Kompetensi       : 2. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Budha sampai masa kolonial Eropa
Kompetensi Dasar      : 2.3 Mendeskripsikanperkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahpada masa Kolonial Eropa.

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini, siswa kelas VII semester 1 akan dapat mengidentifikasi perkembangankehidupan masyarakat pada masa colonial Eropa denganbenar sesuai pada materi dalam buku pedoman siswa.

Indikator:
  • Menguraikan proses masuknya bangsa – bangsaEropa ke Indonesia. 
  • Mengidentifikasi cara – cara yang digunakanbangsa Eropa untuk mencapai tujuannya. 
  • Mengidentifikasireaksibangsa Indonesia terhadap Bangsa Eropa. 
  • Mendeskripsikan perkembangan kehidupanmasyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan padamasa colonial Eropa.

Materi Pelajaran:
  • Proses masuknya bangsa – bangsa Eropa ke Indonesia. 
  • Cara – cara yang digunakan bangsa Eropa untukmencapai tujuannya. 
  • Reaksi bangsa Indonesia terhadap Bangsa Eropa. 
  • Perkembangan kehidupan masyarakat, kebudayaan , dan pemerintahan pada masa  kolonial Eropa. 

 Disusun oleh : Nur Hidayati, Mila Novera, Kiky Amelia, dan Fiki Amalia
Teknologi Pendidikan '10