Rabu, 04 April 2012

Lulusan TP dalam Kategori Adopter?

        Pada kesempatan kali ini, masih dalam mata kuliah Difusi Inovasi Pendidikan, saya ingin membahas dan menjawab pertanyaan “sebagai lulusan tp nanti, kalian termasuk pada kategori adopter yg mana?” pertanyaan ini diperuntukkan kepada para mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan atau yang biasa disebut TPer’s. Berikut saya tampilkan data dari para responden yang dikemas dalam tabel, grafik batang dan lingkaran. Serta sedikit deskripsi dari data tersebut supaya semakin mudah dipahami.
Sebelum mengetahui hasil dari pengamatan, saya paparkan sedikit tentang Kategori Adopter dan hubungannya dengan innovativeness sebagai acuan dari dilakukannya diskusi dan pengamatan. Check it out!
  • Landasan Teori
Innovativeness merupakan tahap yang membuat masyarakat sebagai adopter berpikir akan kegunaan inovasi/tingkat keinovatifan yang berkembang dalam kehidupannya sehingga memutuskan untuk menerima inovasi tersebut. Sedangkan adopter adalah orang yang memakai atau menerima suatu inovasi. 
Berikut adalah karakteristik dari berbagai macam kategori adopter:

  1.  Innovator
Tipe ini adalah tipe yang menemukan inovasi. Mereka mencurahkan sebagian besar hidup, energi, dan kreatifitasnya untuk mengembangkan ide baru. Selain itu orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini cenderung berminat mencari hubungan dengan orang-orang yang berada di luar sistem mereka.

    2.   Penerima Dini
Penerima dini atau Early adopter biasanya adalah orang-orang yang berpengaruh dan lebih dulu memiliki banyak akses karena mereka memiliki orientasi yang lebih ke dalam sistem sosial. Untuk memengaruhi penerima dini tidak memerlukan persuasi karena mereka sendiri yang selalu berusaha mencari sesuatu yang dapat memberikan mereka keuntungan dalam kehidupan sosial atau ekonomi.

     3.   Mayoritas Dini
Early majority ini adalah golongan orang yang selangkah lebih maju. Mereka biasanya orang yang pragmatis, nyaman dengan ide yang maju, tetapi mereka tidak akan bertindak tanpa pembuktian yang nyata tentang keuntungan yang mereka dapatkan dari sebuah produk baru. Mereka adalah orang-orang yang sensitive terhadap pengorbanan dan membenci risiko untuk itu mereka mencari sesuatu yang sederhana, terjamin, cara yang lebih baik atas apa yang telah mereka lakukan.

     4.   Mayoritas Akhir
Late majority dalam penerimaan inovasi. Kelompok ini kurang rasa percaya diri dalam mengadopsi sebuah inovasi, dan seringkali mereka mendapat tekanan dari tetangga dan kerabat mereka yang telah mangadopsi inovasi yang diperkenalkan. Orang-orang dari golongan ini adalah orang-orang yang konservatif pragmatis yang sangat membenci risiko serta tidak nyaman dengan ide baru sehingga mereka belakangan mendapatkan inovasi setelah mereka mendapatkan contoh. Golongan ini lebih dipengaruhi oleh ketakutan dan golongan laggard.

     5.   Laggard
Golongan Laggard adalah golongan akhir yang memandang inovasi atau sebuah perubahan tingkah laku sebagai sesuatu yang memiliki risiko tinggi. Ada indikasi bahwa sebagian dari golongan ini bukanlah orang-orang yang benar-benar skeptis, bisa jadi mereka adalah inovator, penerima dini, atau bahkan mayoritas dini yang terkurung dalam suatu sistem sosial kecil yang masih sangat terikat dengan adat atau norma setempat yang kuat. Atau munngkin karena terbatasnya sumber dan saluran komunikasi menyebabkan seseorang terlambat mengetahui adanya sebuah inovasi dan pada akhirnya golongan ini disebut sebagai Laggard.

  • Hasil Pengamatan







Berdasarkan data yang dikumpulkan, 71% menjawab lulusan TP harus dan lebih baik  menjadi Innovator dalam kategori adopter. Sementara 16% menjawab selain menjadi innovator juga menjadi early adopter. Dan sebanyak 3% menjawab lulusan TP menjadi early adopter.

Jika jawaban responden dianalisa satu per satu, akan terlihat keberagaman alasan yang melandasi jawaban dan pendapat masing-masing. Sebanyak 71% responden memiliki alasan yang serupa. Alasan tersebut yaitu lulusan TP baiknya menjadi innovator karena sebagai agen perubahan yang dapat terus berfikir kreatif dan memiliki rasa ingin mencari /menciptakan hal baru sehingga kemudian muncullah inovasi-inovasi baru dalam bidang pendidikan yang mampu mengatasi masalah belajar, meningkatkan kinerja, dan memfasilitasi belajar.

Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar