Sabtu, 03 Agustus 2013

Gunung Fansipan, Vietnam

5 Hari di Negeri Seribu Ranjau
Kibar Merah Putih di Atap Tertinggi Indochina

Di tanah bekas jajahan Prancis inilah kami, tim Indonesia Women Expedition memulai kiprahnya. Tujuan utama ialah pendakian Gunung Fansipan atau dalam bahasa Vietnam Gunung Phan Xi Pang dengan ketinggian 3.143 mdpl. Gunung Fansipan merupakan gunung tertinggi di wilayah Indochina. Wilayah Indochina meliputi Tonkin (Vietnam bagian utara), Annam (Vietnam bagian tengah), Conchinchina (Vietnam bagian selatan), Kamboja, dan Laos. Kami yang berkesempatan berangkat terdiri dari 4 orang; Andra, Muthia, Ida, dan Ulfa . Sesuai dengan nama kegiatan kami yakni Indonesia Women Expedition (IWE), maka kami berempat adalah perempuan-perempuan dengan latar belakang yang sama yaitu mahasiswa pecinta alam KMPA Eka Citra Universitas Negeri Jakarta. Dengan diiringi doa, restu, dan dukungan dari keluarga dan teman-teman, kami terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Noi Bai Hanoi pada pukul 10.00 WIB. Oleh karena maskapai penerbangan milik Indonesia tidak menyediakan flight ke Hanoi langsung, maka kami harus transit di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia.
            Kegiatan kami didukung beberapa instansi pemerintah termasuk Kementerian Luar Negeri yang melalui Kedutaan Besar Indonesia di Vietnam, kami diantar jemput dan didampingi selama di Hanoi. Sampai di Bandara Noi Bai Hanoi waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kami bertemu dengan pihak KBRI yang sudah menunggu. Lalu kami diantar menuju hotel yang berada di Kota Hanoi. Perjalanan dari bandara ke hotel hanya 45 menit. Dalam perjalanan kami disuguhkan pemandangan kota Hanoi. “Ya beginilah Hanoi, tidak jauh berbeda dengan Jakarta”, ujar Pak Raihan staff dari KBRI. Mata kami detail memperhatikan tiap sudut pemandangan Hanoi. Hanoi secara fisik lebih rapi jika dibanding dengan Jakarta. Banyak taman-taman di tengah kota. Dibawah jalan layang (fly over), pasti ditumbuhi dengan taman bunga yang cantik berwarna warni. Udara di Hanoi pun sejuk, tidak terlalu panas menyengat. Selama 5 hari di Hanoi, cuacanya selalu turun hujan terutama di pagi hari.
Selama perjalanan dari Bandara Noi Bai ke kota, tampak persawahan yang luas serta gedung-gedung perkantoran dan deretan kios-kios. Mata kami tiba-tiba disuguhkan dengan pemandangan sungai yang luas sekali. Kepala kami menoleh ke kanan dan kiri melihat dari dalam mobil. Mobil ini sedang berada di jembatan yang dibawahnya terdapat Sungai Merah yakni nadi utama di Vietnam Utara.  

Menuju Sapa, desa yang mahal sinar mataharinya
Hari kedua, masih ditemani dengan pihak KBRI, kami menuju Stasiun Hanoi. Setelah mendapatkan tiket kereta, kami berpisah. Kini kami berempat akan berpindah lokasi. Tujuan berikutnya yaitu Desa Sapa di provinsi Lao Cai. Desa Sapa merupakan desa di kaki gunung Fansipan. Akses kesana bisa menggunakan bus dan kereta. Untuk biaya, lebih murah menggunakan bus sekitar 300.000 Vietnam Dong atau IDR 150.000. Namun kami lebih memilih naik kereta malam dengan biaya VND 780.000 dengan tipe 4 kasur kelas ekonomi. Perjalanan dengan kereta ini berkisar 8-9 jam maka pada waktu subuh, kami baru tiba di stasiun Lao Cai. Kami tidur nyenyak selama perjalanan. Bayangkan jika kami naik bus dengan kondisi duduk selama 8 jam. Sangat tidak maksimal dalam beristirahat untuk persiapan pendakian esok hari. Jadi tak apa membayar lebih mahal demi kenyamanan. Kereta kami berangkat pukul 09.00 malam. Meski malam hari, kami tetap bisa menikmati pemandangan kota Hanoi. Kereta bergerak dengan pelan. Berbeda dengan kereta di Indonesia. Untuk kedua kalinya kami melewati Sungai Merah. Jembatan Long Bien sepanjang 2.500 m ini merupakan bangunan bersejarah yang selesai dibangun pada tahun 1902 oleh arsitek Perancis Gustave Eiffel, orang yang sama yang membuat Menara Eiffel. Disisi rel kereta, terdapat jalan untuk motor, sepeda, dan pejalan kaki. Ukurannya tidak terlalu lebar, mobil pun tidak cukup untuk melintas. Jika malam hari, banyak orang yang nongkrong di pinggir jembatan untuk menikmati suasana malam hari sambil memandang bentangan Sungai Merah yang luas sekali.
Pagi pun tiba. Pagi ini tanggal 22 Juni 2013. Matahari enggan bersinar terang dan awan gelap lebih mendominasi atap Lao Cai. Kereta berhenti dan kami segera turun. Kami berlari-lari kecil sambil menutup kepala dengan tangan kami agar tidak terkena gemercik air hujan. Pintu keluar stasiun sangat padat dengan orang-orang, baik yang ingin keluar maupun para penjemput. Kami diam sejenak untuk membaca papan dari kertas yang dipegang oleh orang-orang di pinggir pintu stasiun. Mereka adalah penjemput dari travel agent. Mata kami berhasil menemukan seorang pria memegang kertas bertuliskan ‘Eka Citra IWE’. Langsung saja kami menghamipirinya. Lalu seorang pria lainnya menghampiri kami dan dengan berbicara bahasa Inggris, ia mempersilahkan kami untuk naik ke mobil travelnya. Awalnya kami pikir mobil akan segera berangkat, ternyata tidak. Ternyata kami bukan penumpang satu-satunya melainkan masih ada penumpang lainnya yang juga menggunakan jasa travel agent. Ya cukup lama sekitar satu jam kami menunggu mobil penuh terisi kemudian berangkat menuju Desa Sapa.
Mobil travel segera melaju menuju Desa Sapa yang kira-kira ditempuh selama satu jam. Di Lao Cai ini udaranya sejuk dan di Sapa akan lebih dingin karena terletak di dataran yang lebih tinggi. Perjalanan selama satu jam membuat kami merasa mengantuk kembali meskipun sudah cukup nyenyak tidur di kereta. Setibanya di Sapa, mobil tepat berhenti di depan kantor agensi yang akan kami gunakan jasanya. Vietdiscovery adalah nama agensi yang kami gunakan. Kami segera menghubungi seseorang yang sejak dari persiapan di Jakarta kami berkoordinasi. Namanya Mr. Trong. Sebelum bertemu Mr. Trong dan bertemu dengan guide, kami sarapan di restaurant yang letaknya disamping kantor ini.

Welcome to the jungle!
Fansipan adalah puncak tertinggi di Vietnam, Laos dan Kamboja, sehingga disebut "Atap dari Indocina" sementara orang-orang setempat menyebutnya Huasipan, yang berarti batu terhuyung-huyung besar. Sekitar 2.024 varietas bunga, lebih dari 700 ramuan medis, 66 spesies fauna, 347 spesies burung, 102 spesies reptil dan amfibi hidup di habitat Fansipan. Orang Vietnam bangga memiliki Fansipan dan menganggapnya sebagai Taman Eden bahwa Tuhan memberikan ke Vietnam.
Hanya dengan waktu 30 menit perjalanan ditempuh menggunakan mobil, kami tiba di pintu Tram Ton di ketinggian 1.800 mdpl yang merupakan start pendakian. Seorang porter sekaligus guide yang bernama Lo a sinh memberi botol minuman dan rain coat kepada kami. Cuaca sangat cerah mempermudah perjalanan kami. Target hari ini ialah menuju camp II pada ketinggian 2.800 mdpl. Medan yang dilalui bervariasi. Diawal pendakian kami melewati  3-4 anak sungai lalu tanah berlumpur yang cukup sering kami temui. Medan berbatu pun juga tersedia. Batu-batu yang sangat besar harus kami panjat. Namun Gunung Fansipan tidaklah sulit didaki karena tanjakan-tanjakan yang tajam dan vertikal telah disediakan tangga besi untuk mempermudah pendaki memanjat.
Kami sedikit ngebut dalam mendaki karena waktu menunjukkan pukul 09.30 ketika kami start, jauh dari waktu yang kami rencanakan yaitu start pukul 08.30 dini hari. Kami terus menanjak lalu turun dan menanjak lagi. Sungguh melelahkan. Kami mengecek koordinat dan ketinggian dengan GPS. Gunung Fansipan memiliki kontur naik turun, kami harus melewati puncak-puncak bukit untuk sampai ke camp II, tempat kami menghabiskan malam ini. 
Kami menyebrangi sungai, tanah berlumpur, bebatuan, berlumut. Kami berjalan beratap pohon-pohon hutan tropis yang lebat namun tak lama berganti dengan hamparan langit biru dan pegunungan gagah sambung menyambung dengan banyak puncak yang lancip nan hijau”, ujar Ida selaku koordinator operasional IWE. Ada yang perlu menjadi perhatian lebih dari Gunung Fansipan, jarang ditemui sampah dijalur. Justru beberapa tong sampah berjejer di setiap pos dan titik tertentu. Disetiap lokasi camp juga sudah tersedia WC dan kamar mandi lengkap dengan bak dan airnya.
            Di sepanjang jalan kami sering menemui kotoran hewan ternak kerbau dan kambing. Muncul pertanyaan di benak kami, apakah kerbau dan kambing atau hewan ternak lainnya biasa dibawa ke gunung ini oleh pemiliknya. Namun hingga siang hari kami belum menemui hewan ternak sepanjang mendaki. Pukul 11.30 kami tiba di camp I pada ketinggian 2.200 mdpl. Kami berhenti sejenak untuk makan siang. Camp I cukup luas, beberapa tenda dome milik pendaki masih terpasang. Di setiap camp terdapat satu bangunan cukup besar berbentuk segitiga pada atapnya yang terbuat dari seng dan pada dindingnya terbuat dari bambu-bambu. Seperti pada gunung-gunung lainnya, bedeng ini disediakan untuk para pendaki bermalam. Didalamnya disediakan panggung dari kayu pada sisi kanan dan kiri. Kami makan siang di dalam bedeng ini. Kami sembari makan, juga berbincang-bincang dengan turis lokal. Yang menarik disini adalah sekelompok orang yang menetap di sini dan berjualan makanan dan minuman untuk para pendaki. Mereka adalah suku Hmong, masyarakat yang memang tinggal di daerah pegunungan. Ciri khas mereka adalah mengenakan pakaian adat yang memiliki corak khas dan berwarna-warni.
            Cuaca masih cerah dan mendukung, kami segera beranjak melanjutkan perjalanan. Medan di depan akan semakin terjal dan pemandangannya semakin menakjubkan. Kami tak sabar untuk segera melewatinya setelah melihat hasil poto-poto pendaki yang sudah turun dari puncak. Rute setelah camp I masih hutan basah yang penuh lumut di tanah dan dinding bebatuan. Kami masih harus menaiki tangga besi pada medan yang terjal. Jika kami melalui tanjakan terjal maka kami pasti menemui turunan yang terjal pula. Saat menuruninya kami sampai dibantu oleh guide agar tubuh tetap seimbang. Beberapa kali dari kami terpeleset karena medan yang licin.     
Para pendaki bisa melihat keindahan bunga yang terhampar seperti karpet penuh warna, violet dan anggrek, rhododendron dan aglaias. Gunung ini memiliki sawah seperti sawah berteras banawe yang terkenal di Filipina. Topografi gunung Fansipan bervariasi.
Gunung Fansipan termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Hoang Lien Son, terletak di provinsi Lao Cai sebelah barat tenggara Vietnam dan berbatasan langsung dengan China. Kawasan ini di nobatkan menjadi Asean Heritage Garden oleh ASEAN karena keanekaragaman hayatinya yang khas monsun sub-tropisasia, berbagai flora dan fauna endemik terdapat di kawasan hutan ini sekitar 2.024 bunga faunal, 327 varietas dan spesies. Tempat wisata ini menduduki peringkat nomor 12 dalam daftar 7 keajaiban baru dunia. Fansipan telah diusulkan untuk menjadi salah satu tempat eko-wisata dari Vietnam. Akses pendakian Gunung Fansipan di buka sepanjang tahun dan waktu terbaik untuk pendakian sekitar bulan Maret dan Oktober-November, di bulan-bulan tertentu kawasan ini sering mendapatkan hujan salju dan es. Banyak turis-turis mancanegara yang mendaki gunung ini. Terdapat tiga jalur pendakian untuk mencapai ke puncak Fansipan yaitu Tram Ton, Sin Chai, dan Cat Cat. Jalur yang kami pilih yaitu melalui jalur Tram Ton yang paling dekat dan ramai. Bila melalui jalur Tram Ton, terdapat dua lokasi untuk bermalam (camp). Yaitu camp I di ketinggian 2.200 mdpl dan camp II di ketinggian 2.800 mdpl. Karena kami hanya dua hari semalam berada di gunung, maka bermalam di camp II.  
Beautiful! Itu kata yang sering kami ucapkan kepada guide seraya melihat dan tiba di puncak punggungan gunung Fansipan. Hamparan langit biru dan pegunungan hijau terbentang sejauh mata memandang. Medan telah berganti dari hutan basah yang lebat menjadi area jalur yang terbuka. Kami bisa melihat jalur pada bukit di seberang yang nantinya akan kami lewati. Sudah 3,5 jam kami mendaki naik turun. Tenaga kami mulai menipis. Wajah lelah sudah semakin menebal. Kami sedikit mulai bawel dan bertanya kepada guide bahwa berama waktu lagi yang ditempuh untuk sampai di camp II. Sambil tersenyum guide berkata yang artinya tinggal 1 jam lagi. Kami saling berpandangan dan berkata “1 jam lagi yah tidak terlalu lama itu”, dengan tersenyum simpul. Perjalanan dilanjutkan dan benar saja 1 jam kemudian kami tiba di camp II di ketinggian 2.800 mdpl.
Senang sekali rasanya target hari ini tercapai. Langit pun masih cerah dengan mataharinya. Kami segera mendirikan tenda yang kami bawa. Meskipun sudah tersedia bedeng permanen, kami lebih memilih bermalam di tenda karena lebih privasi dan pastinya lebih hangat. Tenda sudah berdiri, saatnya bersih-bersih dan ganti baju. Usai sholat ashar, kami semua masuk tenda dan beristirahat sejenak. Tidak lama kami diajak guide untuk makan malam. Lokasi di camp II hampir sama luasnya dengan camp I hanya saja udara dicamp II lebih dingin dan berkabut. Di camp II pun sudah tersedia kamar mandi dan bak air yang besar di luarnya. Tidak perlu takut kehabisan air jika mendaki Fansipan. Pendakian yang cukup melelahkan apalagi kami dipacu dengan waktu yang mengharuskan kami tiba di camp II sebelum gelap. Waktu menunjukkan jam 9 malam, kami sudah siap dengan di dalam sleeping bag dan mengucapkan selamat tidur satu sama lain. Hawa dingin dan rasa lelah cepat mengantarkan kami dalam lelap malam itu.   
Keesokan harinya pada Minggu, 23 Juni tim melakukan summit attack. Jika kemarin waktu tempuh dari Tram Ton ke camp II memakan waktu 5-6 jam, kini untuk sampai di puncak Fansipan dari camp II hanya 1,5 – 2 jam. Cuaca hujan rintik kecil sejak pagi berbeda dengan hari kemarin. Jam 6 pagi kami bangun. Rasa dingin yang semakin menjadi membuat kami malas untuk keluar dari hangatnya sleeping bag. Tapi kami harus melanjutkan pendakian ke puncak. “hari ini kita harus tambah kecepatan dalam mendaki dan turun nanti karena kereta menuju Hanoi berangkat jam 07.30 pm. Atau kita akan telat dan terburu-buru”, ujar Ida mengingatkan tim. Menu sarapan pagi ini adalah daging, lezat sekali. Tapi kami perlu hati-hati karena di Vietnam, daging babi atau pork adalah lauk yang diminati. Benar saja, makan pagi yang disuguhkan kepada kami selain ayam juga pork. Wow, langsung saja kami kembalikan kepada guide dan berkata, “sorry, we don’t eat pork.”
Kabut belum juga mau mengalah kepada matahari. Hari masih pagi jam 7 kami summit attack. Untuk ke puncak, kami hanya membawa satu cerrier yang berisi minuman dan bendera-bendera yang akan kami dokumentasikan di puncak Fansipan. Untunglah kami membawa trekking pool alat pembantu menumpu tubuh kami ketika menanjak. Ternyata medan yang dilalui masih saja dengan kontur naik turun. Kami melewati aliran sungai yang cukup lebar namun kering. Kadang kami harus melipir tipis dengan jurang di sebelah kanan. Sekitar tiga tangga besi masih akan kami temui. Kami berada di dalam hutan basah. Lumut jelas mendominasi tanah dan dinding-dinding batu. Sehingga kami harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Di tengah perjalanan terdapat air terjun kecil yang harus dilewati. Sampai juga kami di puncak Fansipan pada pukul 08.45 am. “Itu segitiganya!”. di Puncak Fansipan terdapat tugu segitiga yang terbuat dari seng berwarna putih. Tugu itu ada tulisan ‘Fansipan 3143m dengan lambang bintang diatasnya. Bintang merupakan lambang negara Vietnam. Cuaca tetap berkabut tebal sehingga tim kurang beruntung tidak dapat melihat pemandangan. Angin pun bertiup kencang. Kami tidak bisa memandang jauh karena kabut yang menutupi. Luas puncak tidak terlalu lebar. Terdapat batu-batu besar yang menjadi tempat dipasangnya tugu segitiga. Kami menaiki batu-batu besar tersebut untuk menyentuh tugu dan mendokumentasikan gambar. Para pendaki lain berdatangan dan bergantian menyentuh tugu.                 
                Hanya setengah jam tim merayakan selebrasi dan berpoto-poto di puncak lalu segera turun kembali ke camp II. Perjalanan turun lebih cepat satu jam dari ketika naik. Seusai packing tenda dan perlengkapan lainnya, kami menikmati makan siang di dalam bedeng. Jam 12 siang kami melanjutkan perjalanan turun dengan jalur yang sama ke pintu Tram Ton. Di tengah perjalanan akhirnya pertanyaan kami terjawab. Kami bertemu dengan seorang petani yang sedang naik sambil membawa kerbaunya. Lokasinya sekitar ketinggian 2.000 mdpl. Karena kami sedang ngebut turun, kami tidak sempat bertanya-tanya atau mengambil poto kerbau tersebut. Perjalanan turun memang memakan waktu lebih cepat sekitar 3 jam. Namun rasanya sungguh melelahkan. Jauh lebih lelah dari pada ketika naik. Kami terbilang ngebut untuk sampai di Tram Ton. Istirahat hanya sekali ketika di camp I selama 30 menit. Setelah itu kami hanya istirahat 1-5 menit saja di tengah perjalanan. Bagi yang tidak biasa hiking, perlu mental ekstra. “Fansipan adalah kombinasi dari gunung-gunung yang pernah saya daki. Tingginya memang hanya 3.143 mdpl tapi treknya luar biasa. Ketika kau turun dari puncak dan kembali ke desa, kau harus mendaki banyak puncak bayangan terlebih dahulu. Dan itu seperti ketika kau memulai pendakian”. Fisik sudah gontai ditambah rasa ‘gemes’ karena kami sudah turun tetapi medan di depan masih harus menanjak lagi. Pukul 03.15 pm kami sampai di Tram Ton. Luar biasa lelahnya.  Semua tubuh sudah terlepas dari beban cerrier yang selalu menempel di badan selama dua hari, kami langsung meregangkan tubuh sembari melihat-lihat beberapa pedagang yang membuka lapak souvenir khas Sapa.
            Hiasan patung kecil berbentuk tubuh perempuan mengenakan pakaian adat wanita Vietnam dan memakai topi caping sepakat kami bungkus untuk kami pajang di lemari sekretariat kami tercinta di kampus. Mulai dari ukuran yang paling besar hingga kecil. Salah satu dari kami membeli pakaian khas Hmong ukuran anak kecil. Lucu dan unik sekali. Sayangnya di Tram Ton ini tidak ada pilihan baju Hmong ukuran dewasa. Kami harus mencari di pusat Desa Sapa jika ingin membelinya. Baju suku Hmong memang unik. Warnanya berwarna-warni dan motifnya beragam, ada bunga, binatang, dan abstrak. Harganya kisaran 50.000 VND atau IDR 25.000. murah bukan?!
            Di pusat Desa Sapa ramai dengan hotel, restaurant, dan pusat perbelanjaan. Bagi kami para adventurer, akan dimanjakan dengan beberapa toko outdoor equipment. Disinilah  toko The North Face (TNF) menjamur. Mulai dari barang asli hingga tiruannya. Produk TNF jika di Indonesia, sangatlah mahal harganya. Tetapi jika di sini, tentu jauh lebih murah karena TNF merk asal Vietnam.
            Setelah berpamitan kepada agency, kami diantar menuju Stasiun Lao Cai. Kereta kami berangkat pukul 07.30 pm. Biaya yang kami keluarkan untuk tiket kereta sekitar 615.000 VND. Lebih murah dari pada kereta ketika berangkat karena perbedaan kelas/tipe kasur (hard bed/soft bed). Tiga hari berada di Sapa belumlah puas bagi kami. Rasanya masih ingin melihat Sapa dari sisi lebih dalam, terutama dengan Suku Hmong nya.  


Warna-Warni Masyarakat Hmong
            Sapa adalah nama desa terakhir yang kami lewati sebelum memulai pendakian. Secara bentang alam, Sapa sekilas mirip dengan Puncak Pass di Bogor. Dataran tingginya, sawah yang berundak-undak, lereng-lerengnya tidak jauh berbeda. Tetapi perbedaan yang sangat terasa ialah jika Puncak Pass sudah sangat modern dan penuh dengan hotel, villa, dan restaurant, sementara Sapa masih sepi disekitar pinggiran jalan raya nya. Ramai dengan bangunan hanya di pusat Desa Sapa saja yang menyuguhkan pusat perbelanjaan, restaurant, dan hotel untuk para wisatawan. Sapa merupakan daerah yang selalu ditutupi oleh kabut. Disana, sinar matahari adalah sesuatu yang sangat mahal alias jarang. 
            Di Sapa terdapat masyarakat asli yang bernama Hmong. Ciri khas dari mereka adalah memakai ikat kepala dan pakaian yang khas bermotif. Suku Hmong terdiri dari beberapa kelompok, yakni Black Hmong, Red Hmong dan Flower Hmong. Mereka tinggal di daerah pegunungan dan tersebar di negara China, Laos, Kamboja, Thailand dan Vietnam. Hmong sendiri dikenal sebagai suku pegunungan yang sangat lihai bercocok tanam. Namun seiring perkembangan Sapa sebagai tempat wisata, mereka pun banyak yang bekerja sebagai porter dan guide serta penghasil/pengrajin handmate yang akan dijual sebagai souvenir. Mereka memiliki bakat yang sangat artistik yaitu  menyulam, menenun, merajut benang-benang menjadi suatu kerajinan tangan. Mereka sangat ramah dengan para wisatawan. Hasil karya suku Hmong diantaranya tas etnik, baju tradisional,  gelang, kalung, hasil tenunan atau rajutan. Desain motif tenun suku Hmong menggambarkan alam atau binatang seperti bunga dan serangga, serta cenderung menggunakan warna-warna cerah seperti kuning, merah, biru, hijau, atau oranye.
            Kami hanya sebentar berada di Sapa namun kami memperoleh informasi tentang Hmong melalui wawancara seorang perempuan Hanoi yang pernah tinggal lama di Sapa. Orang-orang Hmong banyak yang tinggal di gunung Fansipan menjajakan dan menjual makanan minuman untuk para pendaki. Kepercayaan yang dianut oleh mereka adalah animisme dengan mempercayai roh-roh dan menyembah gunung. Mereka percaya bahwa gunung memiliki kekuatan dalam pengaturan keberlangsungan kehidupan mereka.
            Suku Hmong tetap setia pada adat budayanya, terbukti mereka masih mempertahankan bakat seni mereka sebagai penghuni alam rimba dan hidup di daerah pegunungan. Setiap sub etnik suku Hmong ini mempunyai ciri khas masing-masing dalam berpakaian. Flower Hmong pakaiannya warna warni. Black Hmong berpakaian hitam hitam. Sedangkan Red Hmong berpakian hitam dengan kombinasi warna merah serta ikat kepala merah.
            Kami tidak banyak mendapat informasi tentang asal sejarah suku Hmong.  Berdasarkan legenda dan cerita rakyat mereka menunjukkan kemungkinan mereka berasal dari Mesopotamia. Mereka bermigrasi dari Rusia, Mongolia, dan akhirnya ke pegunungan Tiongkok Selatan, Vietnam, Laos, dan Thailand. Orang Tionghoa sendiri menyebut mereka suku “Miao,” sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang termasuk kaum imigran minoritas. Sedangkan mereka menyebut diri mereka sendiri “suku dataran tinggi/ highlanders.” Hmong adalah suku minoritas yang mendapat perlakuan diskriminasi dari masyarakat Vietnam maupun penduduk di negara lain. Hal ini dikarenakan suku Hmong terbilang suku yang misterius sehingga pada zaman dahulu Hmong digusur dari tanah mereka sendiri oleh masyarakat.
         Dalam bidang pendidikan, Hmong sangat minim tingkat pendidikannya. Mereka sebagian besar tidak mengenyam bangku sekolah. Mengapa? Suku Hmong tinggal di gunung dengan jarak yang berjauhan. Membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal untuk bisa mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah. Oleh karena itu suku Hmong tidak terlalu memprioritaskan tingkat pendidikan. Tidak banyak dari mereka yang bisa membaca dan menulis.
            Kami sedikit menggarisbawahi tentang tradisi pernikahan pada suku Hmong. Menariknya, Hmong terkenal dengan perjodohan antar keluarga yang telah menjadi tata cara dalam pernikahan. Pernikahan adalah hal yang sakral dan suci. Kesetiaan merupakan pondasi dasar pernikahan. Sebaliknya ketidaksetiaan dalam pernikahan merupakan dosa terbesar yang sulit dimaafkan. Pelakunya akan diberikan ganjaran yang lebih keras dibandingkan dengan dosa melakukan pembunuhan. Angka perceraian pun hampir tidak ada. Pernikahan pada Hmong dilakukan sekali seumur hidup, dengan satu orang kecuali jika pasangan mereka meninggal.

Indonesia di mata Vietnam
            “Kalian perlu tau bahwa orang Indonesia di Vietnam sangatlah dihargai dan terpandang. Kalian bagaikan orang Amerika yang sedang berkunjung ke Indonesia. Begitulah perumpamaannya. Orang Indonesia terkenal keramahan dan kerendahan hatinya. Kita harus jaga itu. Disini kalian tak perlu takut”, cerita Pak Raihan lagi kepada kami. Wah..kami semakin percaya diri disini. Kami teringat pesan dan wejangan dari rektor kami, Prof. Dr. Bedjo Sujanto, M.Pd. Beliau memberi pesan ketika kami berpamitan, “Dimanapun termasuk di negeri orang sana, kalian harus bangga dengan almamater kita. Bangga dengan negeri Indonesia. Tidak perlu minder dan takut. Ramahlah pada siapapun dan jalin relasi lalu jagalah”.
            Bila mendengar kata Vietnam, yang ada dalam benak kita pasti gambaran perang yang sadis serta memakan banyak korban. Dalam perang Vietnam, Amerika dan pasukannya menjadi bulan-bulanan pasukan Vietnam hingga akhirnya Amerika kalah. Tetapi ternyata Vietnam memiliki sejarah kedekatan yang baik dengan Indonesia. Uncle Ho berkawan dekat dengan Bung Karno. Keduanya adalah tokoh besar bagi bangsanya. Bung Karno dan Ho Chi Minh sama-sama tokoh pergerakan yang piawai menggelorakan semangat juang dan jiwa merdeka rakyat semesta. Indonesia dan Vietnam memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun yang sama, 1945. Jika Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus, maka Vietnam merdeka 29 Agustus. Tetapi Vietnam masih didatangi dan dijajah oleh bangsa Eropa yakni Prancis dan Amerika.
            Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia untuk semua wilayah kepulauan eks Hindia Belanda, sekalipun kemudian dipecah-pecah dalam beberapa perjanjian dengan Belanda, sebelum akhirnya kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebaliknya, Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan Indo China yang meliputi semua bekas jajahan Perancis, sekalipun pada akhirnya hanya meliputi Vietnam Utara. Indonesia merdeka dengan Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Sedangkan Vietnam merdeka dengan ideologi komunis, dan menyisakan kaum borjuis yang rela membentuk negara-negara boneka eks penjajahnya. Pancasila sebagai ideologi yang digagas Bung Karno, jauh lebih universal, jauh lebih mampu mengakomodir kepentingan individu di setiap negara mana pun, dibanding komunisme.
            Di sisi lain, Dalat, Ibukota Propinsi Lam Dong di Vietnam punya histori panjang tentang sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Dari sinilah, para Pendiri Bangsa antara lain Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat harus buru-buru terbang ke Dalat untuk menemui Marsekal Terauchi—Panglima Pasukan Jepang di Asia Tenggara—hanya untuk satu urusan penting yaitu menerima “kabar gembira” tentang kemungkinan Jepang kalah dalam Perang Asia Timur Raya. Itulah kisah Vietnam dan Indonesia yang saling berkaitan.
                Salah satu peristiwa yang menarik yaitu ketika kami bertemu dengan seorang kakek tua yang jenggot dan rambut gondrongnya sudah memutih. Ia terlihat seperti pengamen namun elegan. Alat yang ia bawa diantaranya tas ransel besar, daftar lirik lagu-lagu dan kunci nadanya, speaker, dan alat musiknya yakni gitar tradisional (seperti ukulele). Kakek tua ini menarik perhatian kami yang sedang berkeliling danau Haon Kiem. Langsung saja kami menghampirinya untuk berpoto bersama. Tak disangka kakek tersebut menyadari kami berasal dari Indonesia karena melihat seragam kami. Ia berteriak “Jakarta!”. Kami terkejut namun langsung mengiyakan sambil tersenyum ramah. Saat itu juga si Kakek berkata yang artinya ia akan menyanyikan sebuah lagu Indonesia. Ketika ia mainkan lagu tersebut, kami langsung sadar dan ikut bernyanyi bersama. Malam itu, sebelumnya sepi dari penonton menjadi ramai karena kehebohan kami bernyanyi bersama. Lantas kami jadi artis sejenak kala itu. Dua buah lagu yang dinyanyikan oleh si Kakek adalah lagu daerah Ayo Mama dan lagu wajib nasional Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki. Si kakek menyanyikan liriknya dengan semangat dan hapal meski terdengar aneh karena cengkok bahasa vietnamnya. Kami sangat terharu bahwa orang Vietnam mengenal baik Indonesia bahkan sampai ke lagunya. Betapa dimasa lalu Indonesia sangat memiliki peran di negara bekas jajahan Prancis ini.    
                Menariknya lagi, bagi penduduk Vietnam tepatnya di Hanoi, makan menggunakan tangan langsung adalah hal yang tabuh. Mereka dengan makanan utama mie tentu terbiasa menggunakan sumpit atau sendok untuk sup nya. Kami menyadari itu ketika sedang makan di sore hari di pinggir danau Hoan Kiem. Kebetulan di kemasan makanan kami, tidak ada sendok atau sumpit. Maka hemat kami langsung makan menggunakan tangan seperti  yang biasa dilakukan orang Indonesia. Perilaku kami ini menjadi perhatian setiap orang Vietnam yang berlalu lalang melewati kami. Bahkan ada yang masih melihat kami meski jaraknya jauh. Mereka yang berani, banyak yang menyapa kami dan bertanya, “Indonesia?! Jakarta?!”. Dan kami menjawab “yes yes”, sambil tersenyum.

Sahabat baru
            Pada Senin, 24 Juni setelah cukup istirahat seusai pendakian Fansipan, kami berkeliling Hanoi tepatnya ke Danau Hoan Kiem dengan berjalan kaki. Bermodalkan peta Kota Hanoi, kami hanya berempat menyusuri jalanan. Memang lebih seru berjalan kaki karena dapat mampir ke toko dan tempat yang dirasa unik atau sekedar menghampiri warga Vietnam untuk berpoto bersama. Danau Hoan Kiem merupakan danau yang ramai dikunjungi orang-orang. Selain dekat sekali dengan pusat perbelanjaan, di tengah danau juga terdapat kuil dan jembatan merah. Sore hari kami berkeliling Danau Hoan Kiem bertemu dengan warga Vietnam yang banyak menyapa karena penampilan kami yang sangat berbeda. Tiga dari kami memang menggunakan jilbab dan mengenakan seragam dinas lapangan yang memasang emblem bendera merah putih di lengan sehingga siapapun tau bahwa kami dari Indonesia.    
            Kami berkenalan dengan dua orang pribumi Hanoi. Mereka juga berstatus mahasiswi. Bernama Ivan dan Hoa. Mereka ramah sekali kepada kami dan bersedia menemani kami berbelanja di pusat belanja di jalan Gang Hai. Bersama mereka, kami tidak kesulitan dalam menawar barang sehingga kami mendapatkan harga lebih murah. Kami membelikan souvenir sebagai kenang-kenangan kepada mereka. Malam semakin larut, kami semua lelah dan pegal sedari siang berkeliling. Ivan dan Hoa mengantar kami hingga depan gang Hotel tempat kami menginap. Mereka takut kami tersasar. Setelah bersalaman dan berpelukan, kami pun berpisah. Meski sebentar namun sangat berkesan. Mereka sangat baik.                   
            “Kami tidak akan lupa kenangan singkat yang sangat berkesan di Hanoi. Kami mendapat dua orang teman baru di Hanoi yang menemani kami berbelanja dan menawar harga. Mereka baik sekali. Begitu pula dengan pihak KBRI yang telah menjamu kami. Terima kasih…yang kami berikan hanya mengibarkan merah putih di atap tertinggi Indochina”, kata Ida.


Ha Noi Kota 1.000 Danau
Vietnam terbagi menjadi dua wilayah, yakni Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Hanoi adalah ibu kota negara Vietnam terletak di Vietnam Utara. Hanoi sendiri memiliki arti ‘berada diantara dua sungai’. Maksudnya yaitu Kota Hanoi berada di wilayah yang banyak memiliki sungai-sungai. Vietnam memang memiliki banyak wilayah perairan yakni sungai dan danau yang terbentang luas. Baik itu danau alami maupun buatan manusia. Hanoi pun dijuluki sebagai kota 1.000 danau. Ada hal menarik mengenai asal muasal Vietnam memiliki banyak danau. Dahulu Ho Chi Minh - seorang tokoh proklamator Vietnam, sekaligus Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954 - 1969) – gemar sekali memancing. Ia semasa hidupnya ketika pergi kemanapun di wilayah Vietnam, selalu menyempatkan untuk memancing. Oleh sebab itu, masyarakat membuat banyak danau untuk Ho Chi Minh supaya ia bisa memancing sekaligus sebagai penghormatan. Vietnam Rose - negara dengan ladang seribu ranjau – adalah julukan bagi negara Vietnam yang baru merdeka dan bersatu pada 2 Juli 1976 setelah berhasil memukul mundur tentara Amerika Serikat pada Perang Vietnam (1959-1972).
Red River, nadi utama Vietnam Utara
Kota Hanoi dilalui oleh sebuah sungai besar yang membelahnya, dan menjadi salah satu sarana transportasi di kota tersebut. Sungai tersebut mengalir dari negara tetangga China sehingga memiliki peran dalam menjaga stabilitas keamanan antarkedua negara. Sungai tersebut dinamakan Sungai Merah (Red River), karena memang warnanya dari kejauhan tampak kemerah-merahan. Sungai ini merupakan pusat dari semua kegiatan ekonomi di Vietnam utara. Kota Hanoi merupakan kota yang cantik dan memesona. Beberapa peninggalan perang Vietnam masih tampak berdiri tegak dan sengaja dipertahankan.  
                Salah satu tempat menarik yang kami kunjungi di kota Hanoi ini adalah danau di pusat tengah kota. Danau tersebut cukup luas dengan kuil di tengahnya. Di sekeliling danau tampak pusat pertokoan, kafe, restoran, dan hotel berbintang ramai dikunjungi turis. Masyarakat Ha Noi menjadikan danau di tengah kota tersebut sebagai tempat bersantai dan bercengkerama. Tampak dari pagi, siang hingga malam hari, sepanjang pinggir danau selalu dipadati pengunjung baik yang berjalan kaki, olahraga, duduk ataupun berkendara. Taman-taman bunga ditanam disekeliling danau sehingga menambah keelokan pemandangannya. Di sudut pinggir danau, terdapat jam besar yang berada di hamparan bunga-bunga warna warni.
Suatu hal yang patut dikagumi, walaupun padat dengan penduduk dan kendaraan bermotor, namun kota Hanoi bebas polusi, maksudnya jarang sekali kami melihat orang-orang memakai masker atau helm full face. Gas pembuangan kendaraan bermotor sudah ramah lingkungan. Tidak ada asap pekat hitam yang mengebul. Jalan raya di Kota Hanoi terdapat banyak persimpangan yang jaraknya relatif dekat. Oleh karena itu para pengendara mengendara dengan pelannya. Tidak ada yang kebut-kebutan. Beberapa suvenir menarik yang menjadi ciri khas dari kota ini diantaranya seperti topi petani Vietnam, topi perang Vietkong, Zipo dengan gambar tentara Vietkong, kaus dan lain sebagainya.
            Makanan khas Vietnam hampir sama dengan Indonesia. Sebagian besar dari sayuran, sea food atau daging babi. Bagi yang tidak mau makan daging babi harus hati-hati karena makanan ini merupakan menu utama dan tersedia di mana-mana.


 Tangguhnya wanita Vietnam
            Perjalanan keluar dari bandara Noi Bai Hanoi, kami dikejutkan dengan pemandangan yang jarang kami lihat. Bandara Noi Bai sedang dalam penambahan bangunanan sehingga areanya banyak alat berat, traktor, galian tanah, dan sebagainya. Dari dalam mobil kami melihat galian tanah yang didalamnya ada seorang pekerja bangunan sedang entah menggali atau mengecek. Banyak lubang galian tanah, namun pekerja yang berada didalamnya adalah perempuan! Sementara para pekerja lelakinya berada di atas dengan santai. Ini bukanlah perpeloncoan atau uji coba. Memang seperti itu di Vietnam. Perempuan-perempuan Vietnam sangat tangguh. Mereka terbiasa bekerja kasar dan berat. Pedagang makanan, sayur dengan bawaan yang berat, dipikul oleh perempuan. Bahkan ketika malam hari, kami menyusuri jalan menuju Hotel berpapasan dengan pekerja kebersihan. Mereka membawa gerobak sampah masing-masing. Mereka memindahkan sampah dari tempat sampah pinggir jalan ke gerobak. Mereka adalah perempuan. Perempuan-perempuan dengan usia muda ya seperti kami. Kami tidak menyangka perempuan-perempuan bak artis korea itu dengan seragam dinas kebersihannya lihai mengoper sampah.
            Perempuan di Vietnam banyak yang menjadi pencari nafkah disamping lelakinya juga bekerja. Perempuan Vietnam tidak malu bekerja kasar/buruh. Kami teringat dengan suku Hmong dimana wanita Hmong lebih mendominasi dari pada pria Hmong. Wanita Hmong lebih banyak tampil di masyarakat. Para pedagang souvenir pun kebanyakan wanita. Flash back ketika di Fansipan, kami terkesima melihat seorang wanita Hmong menjadi porter dari turis mancanegara. Lincah dan energik. Mengetahui wanita Vietnam adalah wanita yang tangguh, kami menjadi semakin percaya diri dan semangat.            


Misi Indonesia Women Expedition  
Kegiatan ini tidak hanya sekedar pendakian Mt. Fansipan, tetapi kami membawa misi. Misi kami tuangkan dengan melakukan sosialisasi di Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Hanoi. Jarak KBRI dengan hotel kami tidaklah jauh. Jika berjalan kaki hanya 10 menit. Di KBRI ini kami mempresentasikan profil kegiatan Indonesia Women Expedition dan mensosialisasikan sumber daya energi terbarukan yaitu Solar System kepada pihak KBRI sebagai upaya mengkampanyekan hemat energi melalui energi alternatif. Pada saat itu Duta Besar RI Mayerfas sedang ada di tempat namun sayang karena kesibukannya, beliau tidak dapat menghadiri presentasi kami.
Dalam kegiatan ini Andra sebagai ketua pelaksana memaparkan tentang profil kegiatan Indonesia Women Expedition, kemudian dilanjutkan oleh Nur Hidayati yang menyampaikan tentang penggunaaan energi terbarukan yaitu solar system. Berdasarkan data dari Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) cadangan bahan bakar minyak akan habis dalam waktu ±20 tahun. Oleh sebab itu dalam sosialisasi ini dipaparkan mengenai energi alternatif solar system yang merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang tak akan habis. Kami juga menghimbau untuk menghemat energi yang kita gunakan saat ini. Solar system adalah energi yang menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi yang kemudian di tangkap oleh panel-panel surya. Di dalam panel tersebut tersimpan energi yang dihasilkan oleh matahari yang dapat digunakan kapan saja. Di Indonesia sendiri telah banyak didirikan panel surya seperti di Bangli, Bali ; Papua Barat ; Kalimantan Tengah ; Jombang, Ja-Tim; Tatibajo, Sul-Bar; Gili Trawangan, Lombok; Bandara Radin Inten, Bandar Lampung; Pulau Sebira, Kepulauan Seribu, dan lain-lain.
Pihak KBRI sangat antusias mengetahui maksud dan tujuan kami datang ke Hanoi. Bagi mereka, ini kali pertama ada mahasiswa putri dari Indonesia yang ingin mendaki Gunung Fansipan. Sebelum poto bersama, beberapa staff dari KBRI bercerita tentang masyarakat di Hanoi dan yang tidak kalah pentingnya ialah informasi-informasi tentang Desa Sapa, desa yang akan kami singgahi sebelum mendaki ke Gunung Fansipan.
“Saya sangat bangga dan kagum pada kalian. Saya sampai terheran-heran tau kalau kalian hanya berempat dan perempuan semua pula. Tidak didampingi seorang laki-laki satupun”, komentar dari Pak Sadikin yang merupakan pejabat fungsi protokol dan konsuler di KBRI sekaligus moderator saat kami presentasi. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Kami bersama-sama menyantap makan siang sambil berbincang-bincang.
Sangat dianjurkan sekali jika kita bertandang ke negeri orang, berkoordinasi terlebih dahulu dengan kedutaan besar Republik Indonesia di negara tersebut. Karena bagaimanapun juga kita adalah warga asing disana dan perlu memperhatikan keamanan dan kenyamanan disana. KBRI lah tempat yang paling aman menurut kami, ya jelas karena kami WNI. Selain itu kegiatan ini membawa misi tersendiri yakni mengangkat sosok perempuan-perempuan Indonesia di kancah internasional. Zaman sekarang, perempuan Indonesia telah marak berkarya sampai go international di berbagai bidang. Kami pun ingin turut menyumbang menoreh sejarah dalam bidang adventure melalui pendakian gunung-gunung di dunia. “Jika dulu kami saksi sejarah para sahabat-sahabat, sekarang kami adalah bagian dari pengukir sejarah!”, ujar Ida selaku koordinator bagian operasional IWE.
Kegiatan Indonesia Women Expedition 2013 selesai setelah sebelumnya melakukan latihan fisik mendaki di Gunung Gede, Cibodas dan melakukan kampanye memperingatkan hari Kartini dan Hari Bumi serta hemat energi di pintu Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Jawa Barat. Tahun depan akan ada gunung-gunung yang menunggu untuk kami daki. Perempuan juga bisa! . Nur Hidayati (NH).
 
Info ...
  1. Kurs mata uang Vietnam Dong lebih rendah dari rupiah. 20.000 VND sama dengan IDR 40.000.
  2. Siapkanlah mata uang dollar dari Indonesia. Untuk menukar dari dollar ke mata uang dong, lebih baik dilakukan ketika sudah tiba di Vietnam. Nilai tukarnya yaitu 1 USD sama dengan 21.000 VND.
  3.  Jangan lupa menyiapkan dan mambawa selalu kamus mini bahasa Vietnam. Ini bisa memudahkan kita jika ingin membeli barang atau mencari alamat.
  4. Tidak ada perbedaan waktu antara Hanoi, Vietnam dengan Jakarta.
  5. Di Hanoi, matahari tenggelam pukul 06.50 pm.
  6. Waspada terhadap makanan di Vietnam. Pastikan makanan yang kita pesan bukanlah daging babi. Di Hanoi, Vietnam lauk utamanya ialah daging babi.
  7. Sangat sedikit menemukan restaurant berlabel ‘Halal’ di Hanoi.
  8. Mie adalah makanan pokok di Vietnam seperti hal nya beras/nasi yang menjadi bahan utama jika makan.
  9. Di Kota Hanoi terdapat banyak danau. Sehingga disebut Kota Seribu danau..   Ho Chi Minh adalah seorang tokoh proklamator dan presiden Vietnam yang memiliki kekerabatan sangat erat dengan Ir. Soekarno. Indonesia adalah Soekarno, itulah image di mata warga Vietnam.
  10. Jika kalian pengguna produk The North Face, maka mampirlah ke Sapa karena disana ada beberapa outlet-outlet TNF. Dan harganya pasti lebih miring dibanding di Indonesia.
  11. Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke negeri China dari Lao Cai. Tapi tentu harus memiliki Visa.
  12. Gunung Fansipan menduduki peringkat nomor 12 dalam daftar 7 keajaiban baru dunia.
  13. Di Hanoi, terdapat museum Ho Chi Minh yang merupakan makam beliau. Di dalamnya terdapat jasad Ho Chi Minh yang masih utuh tampak seperti fisik manusia hidup. Tetapi kamera dan alat gadget dilarang dibawa masuk.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar