5
Hari di
Negeri Seribu Ranjau
Kibar Merah Putih di Atap Tertinggi
Indochina
Di tanah bekas jajahan Prancis
inilah kami, tim Indonesia Women
Expedition memulai kiprahnya. Tujuan utama ialah pendakian Gunung Fansipan
atau dalam bahasa Vietnam Gunung Phan Xi
Pang dengan ketinggian 3.143 mdpl. Gunung Fansipan merupakan
gunung tertinggi di wilayah Indochina. Wilayah
Indochina meliputi
Tonkin (Vietnam bagian utara), Annam (Vietnam bagian tengah), Conchinchina
(Vietnam bagian selatan), Kamboja, dan Laos. Kami yang berkesempatan berangkat
terdiri dari 4 orang; Andra, Muthia, Ida, dan Ulfa . Sesuai dengan nama kegiatan kami
yakni Indonesia Women Expedition
(IWE), maka kami berempat adalah perempuan-perempuan dengan latar belakang yang
sama yaitu mahasiswa pecinta alam KMPA Eka Citra Universitas Negeri Jakarta.
Dengan diiringi doa, restu, dan dukungan dari keluarga dan teman-teman, kami
terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Noi Bai Hanoi pada pukul
10.00 WIB. Oleh karena maskapai penerbangan milik Indonesia tidak menyediakan flight ke Hanoi langsung, maka kami
harus transit di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia.
Kegiatan kami didukung beberapa instansi pemerintah
termasuk Kementerian Luar Negeri yang melalui Kedutaan Besar Indonesia di
Vietnam, kami diantar jemput dan didampingi selama di Hanoi. Sampai di Bandara
Noi Bai Hanoi waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kami bertemu dengan pihak
KBRI yang sudah menunggu. Lalu kami diantar menuju hotel
yang berada di Kota Hanoi.
Perjalanan dari bandara ke hotel hanya 45 menit. Dalam perjalanan kami
disuguhkan pemandangan kota Hanoi. “Ya beginilah Hanoi, tidak jauh berbeda
dengan Jakarta”, ujar Pak Raihan staff dari KBRI. Mata kami detail
memperhatikan tiap sudut pemandangan Hanoi. Hanoi secara fisik lebih rapi jika
dibanding dengan Jakarta. Banyak taman-taman di tengah kota. Dibawah jalan
layang (fly over), pasti ditumbuhi dengan taman bunga yang cantik berwarna
warni. Udara di Hanoi pun sejuk, tidak terlalu panas menyengat. Selama 5 hari
di Hanoi, cuacanya selalu turun hujan terutama di pagi hari.
Selama perjalanan dari Bandara Noi
Bai ke kota, tampak persawahan yang luas serta gedung-gedung perkantoran dan
deretan kios-kios. Mata kami tiba-tiba disuguhkan dengan pemandangan sungai
yang luas sekali. Kepala kami menoleh ke kanan dan kiri melihat dari dalam
mobil. Mobil ini sedang berada di jembatan yang dibawahnya terdapat Sungai
Merah yakni nadi utama di Vietnam Utara.
Menuju Sapa, desa yang mahal sinar mataharinya
Hari
kedua, masih ditemani
dengan pihak KBRI, kami menuju Stasiun Hanoi. Setelah mendapatkan tiket kereta,
kami berpisah. Kini kami berempat akan berpindah lokasi. Tujuan berikutnya
yaitu Desa Sapa di provinsi Lao Cai. Desa Sapa merupakan desa di kaki gunung
Fansipan. Akses kesana bisa menggunakan bus dan kereta. Untuk biaya, lebih
murah menggunakan bus sekitar 300.000 Vietnam Dong atau IDR 150.000. Namun kami
lebih memilih naik kereta malam dengan biaya VND 780.000 dengan tipe 4 kasur
kelas ekonomi. Perjalanan dengan kereta ini berkisar 8-9 jam maka pada waktu
subuh, kami baru tiba di stasiun Lao Cai. Kami tidur nyenyak selama perjalanan.
Bayangkan jika kami naik bus dengan kondisi duduk selama 8 jam. Sangat tidak
maksimal dalam beristirahat untuk persiapan pendakian esok hari. Jadi tak apa
membayar lebih mahal demi kenyamanan. Kereta kami berangkat pukul 09.00 malam.
Meski malam hari, kami tetap bisa menikmati pemandangan kota Hanoi. Kereta
bergerak dengan pelan. Berbeda dengan kereta di Indonesia. Untuk kedua kalinya
kami melewati Sungai Merah. Jembatan Long Bien sepanjang 2.500 m ini merupakan
bangunan bersejarah yang selesai dibangun pada tahun 1902 oleh arsitek Perancis
Gustave Eiffel, orang yang sama yang membuat Menara Eiffel. Disisi rel kereta,
terdapat jalan untuk motor, sepeda, dan pejalan kaki. Ukurannya tidak terlalu
lebar, mobil pun tidak cukup untuk melintas. Jika malam hari, banyak orang yang
nongkrong di pinggir jembatan untuk menikmati suasana malam hari sambil
memandang bentangan Sungai Merah yang luas sekali.
Pagi pun tiba. Pagi
ini tanggal 22 Juni 2013. Matahari
enggan bersinar terang dan awan gelap lebih mendominasi atap Lao Cai. Kereta
berhenti dan kami segera turun. Kami berlari-lari kecil sambil menutup kepala
dengan tangan kami agar tidak terkena gemercik air hujan. Pintu keluar stasiun
sangat padat dengan orang-orang, baik yang ingin keluar maupun para penjemput.
Kami diam sejenak untuk membaca papan dari kertas yang dipegang oleh
orang-orang di pinggir pintu stasiun. Mereka adalah penjemput dari travel agent. Mata kami berhasil
menemukan seorang pria memegang kertas bertuliskan ‘Eka Citra IWE’. Langsung
saja kami menghamipirinya. Lalu seorang pria lainnya menghampiri kami dan
dengan berbicara bahasa Inggris, ia mempersilahkan kami untuk naik ke mobil
travelnya. Awalnya kami pikir mobil akan segera berangkat, ternyata tidak.
Ternyata kami bukan penumpang satu-satunya melainkan masih ada penumpang
lainnya yang juga menggunakan jasa travel agent. Ya cukup lama sekitar satu jam
kami menunggu mobil penuh terisi kemudian berangkat menuju Desa Sapa.
Mobil travel segera melaju menuju
Desa Sapa yang kira-kira ditempuh selama satu jam. Di Lao Cai ini udaranya
sejuk dan di Sapa akan lebih dingin karena terletak di dataran yang lebih
tinggi. Perjalanan selama satu jam membuat kami merasa mengantuk kembali
meskipun sudah cukup nyenyak tidur di kereta. Setibanya di Sapa, mobil tepat
berhenti di depan kantor agensi yang akan kami gunakan jasanya. Vietdiscovery
adalah nama agensi yang kami gunakan. Kami segera menghubungi seseorang yang
sejak dari persiapan di Jakarta kami berkoordinasi. Namanya Mr. Trong. Sebelum
bertemu Mr. Trong dan bertemu dengan guide, kami sarapan di restaurant yang
letaknya disamping kantor ini.
Welcome to the jungle!
Fansipan adalah puncak tertinggi di
Vietnam, Laos
dan Kamboja, sehingga disebut "Atap
dari Indocina"
sementara orang-orang setempat menyebutnya Huasipan, yang berarti batu
terhuyung-huyung besar. Sekitar
2.024 varietas bunga, lebih dari 700 ramuan medis, 66 spesies fauna, 347 spesies
burung, 102 spesies reptil dan amfibi hidup di habitat Fansipan. Orang Vietnam bangga memiliki
Fansipan dan
menganggapnya sebagai Taman
Eden bahwa Tuhan
memberikan ke Vietnam.
Hanya
dengan waktu 30 menit perjalanan ditempuh menggunakan mobil, kami tiba di pintu
Tram Ton di ketinggian 1.800 mdpl yang merupakan start pendakian. Seorang
porter sekaligus guide yang bernama Lo a sinh memberi botol minuman dan rain
coat kepada kami. Cuaca sangat cerah mempermudah perjalanan kami. Target hari
ini ialah menuju camp II pada ketinggian 2.800 mdpl. Medan yang dilalui bervariasi. Diawal
pendakian kami melewati 3-4 anak sungai lalu tanah berlumpur yang cukup
sering kami temui.
Medan berbatu pun juga tersedia. Batu-batu yang sangat besar harus kami
panjat. Namun Gunung
Fansipan tidaklah sulit didaki karena tanjakan-tanjakan yang tajam dan vertikal
telah disediakan tangga besi untuk mempermudah pendaki memanjat.
Kami
sedikit ngebut dalam mendaki karena waktu menunjukkan pukul 09.30 ketika kami
start, jauh dari waktu yang kami rencanakan yaitu start pukul 08.30 dini hari.
Kami terus menanjak lalu turun dan menanjak lagi. Sungguh melelahkan. Kami
mengecek koordinat dan ketinggian dengan GPS. Gunung Fansipan memiliki kontur
naik turun, kami harus melewati puncak-puncak bukit untuk sampai ke camp II,
tempat kami menghabiskan malam ini.
“Kami menyebrangi
sungai, tanah berlumpur, bebatuan, berlumut. Kami berjalan beratap pohon-pohon
hutan tropis yang lebat namun tak lama berganti dengan hamparan langit biru dan
pegunungan gagah sambung menyambung dengan banyak puncak yang lancip nan
hijau”, ujar Ida selaku koordinator operasional IWE. Ada yang perlu menjadi
perhatian lebih dari Gunung Fansipan, jarang ditemui sampah dijalur. Justru beberapa
tong sampah berjejer di setiap pos dan titik tertentu. Disetiap lokasi camp
juga sudah tersedia WC dan kamar mandi lengkap dengan bak dan airnya.
Di sepanjang jalan kami sering
menemui kotoran hewan ternak
kerbau dan kambing. Muncul pertanyaan di benak kami, apakah kerbau dan
kambing atau hewan ternak lainnya biasa dibawa ke gunung ini oleh pemiliknya.
Namun hingga siang hari kami belum menemui hewan ternak sepanjang mendaki. Pukul
11.30 kami tiba di camp I pada ketinggian 2.200 mdpl. Kami berhenti sejenak
untuk makan siang. Camp I cukup luas, beberapa tenda dome milik pendaki masih terpasang. Di setiap camp terdapat satu
bangunan cukup besar berbentuk segitiga pada atapnya yang terbuat dari seng dan
pada dindingnya terbuat dari bambu-bambu. Seperti pada gunung-gunung lainnya, bedeng ini disediakan untuk para pendaki
bermalam. Didalamnya disediakan panggung dari kayu pada sisi kanan dan kiri.
Kami makan siang di dalam bedeng ini.
Kami sembari makan, juga berbincang-bincang dengan turis lokal. Yang menarik
disini adalah sekelompok orang yang menetap di sini dan berjualan makanan dan
minuman untuk para pendaki. Mereka adalah suku Hmong, masyarakat yang memang
tinggal di daerah pegunungan. Ciri khas mereka adalah mengenakan pakaian adat
yang memiliki corak khas dan berwarna-warni.
Cuaca masih cerah dan mendukung,
kami segera beranjak melanjutkan perjalanan. Medan di depan akan semakin terjal
dan pemandangannya semakin menakjubkan. Kami tak sabar untuk segera melewatinya
setelah melihat hasil poto-poto pendaki yang sudah turun dari puncak. Rute
setelah camp I masih hutan basah yang penuh lumut di tanah dan dinding
bebatuan. Kami masih harus menaiki tangga besi pada medan yang terjal. Jika
kami melalui tanjakan terjal maka kami pasti menemui turunan yang terjal pula.
Saat menuruninya kami sampai dibantu oleh guide agar tubuh tetap seimbang.
Beberapa kali dari kami terpeleset karena medan yang licin.
Para pendaki
bisa melihat keindahan bunga yang terhampar seperti karpet penuh warna, violet
dan anggrek, rhododendron dan aglaias. Gunung ini memiliki sawah seperti sawah berteras banawe yang terkenal di
Filipina. Topografi gunung Fansipan
bervariasi.
Gunung Fansipan termasuk ke dalam
kawasan Taman Nasional Hoang Lien Son, terletak di provinsi
Lao Cai sebelah barat
tenggara Vietnam dan berbatasan langsung dengan China. Kawasan ini di nobatkan
menjadi Asean Heritage Garden oleh
ASEAN karena keanekaragaman hayatinya yang khas monsun sub-tropisasia, berbagai
flora dan fauna endemik terdapat di kawasan hutan ini sekitar 2.024 bunga faunal, 327 varietas dan spesies. Tempat wisata ini menduduki peringkat nomor 12 dalam
daftar 7 keajaiban baru dunia. Fansipan telah diusulkan untuk menjadi salah
satu tempat eko-wisata dari Vietnam. Akses pendakian
Gunung Fansipan di buka sepanjang tahun dan waktu terbaik untuk pendakian
sekitar bulan Maret dan Oktober-November, di bulan-bulan tertentu kawasan ini
sering mendapatkan hujan salju dan es. Banyak turis-turis
mancanegara yang mendaki gunung ini. Terdapat tiga jalur pendakian untuk
mencapai ke puncak Fansipan yaitu Tram Ton, Sin Chai, dan Cat Cat. Jalur yang kami
pilih yaitu melalui
jalur Tram Ton yang paling dekat dan ramai. Bila melalui jalur Tram Ton,
terdapat dua lokasi untuk bermalam (camp). Yaitu camp I di ketinggian 2.200
mdpl dan camp II di ketinggian 2.800 mdpl. Karena
kami hanya
dua hari semalam berada di gunung, maka bermalam di camp II.
Beautiful!
Itu kata yang sering kami ucapkan kepada guide seraya melihat dan tiba di
puncak punggungan gunung Fansipan. Hamparan langit biru dan pegunungan hijau
terbentang sejauh mata memandang. Medan telah berganti dari hutan basah yang
lebat menjadi area jalur yang terbuka. Kami bisa melihat jalur pada bukit di
seberang yang nantinya akan kami lewati. Sudah 3,5 jam kami mendaki naik turun.
Tenaga kami mulai menipis. Wajah lelah sudah semakin menebal. Kami sedikit
mulai bawel dan bertanya kepada guide bahwa berama waktu lagi yang ditempuh
untuk sampai di camp II. Sambil tersenyum guide berkata yang artinya tinggal 1
jam lagi. Kami saling berpandangan dan berkata “1 jam lagi yah tidak terlalu
lama itu”, dengan tersenyum simpul. Perjalanan dilanjutkan dan benar saja 1 jam
kemudian kami tiba di camp II di ketinggian 2.800 mdpl.
Senang
sekali rasanya target hari ini tercapai. Langit pun masih cerah dengan
mataharinya. Kami segera mendirikan tenda yang kami bawa. Meskipun sudah
tersedia bedeng permanen, kami lebih memilih bermalam di tenda karena lebih
privasi dan pastinya lebih hangat. Tenda sudah berdiri, saatnya bersih-bersih
dan ganti baju. Usai sholat ashar, kami semua masuk tenda dan beristirahat
sejenak. Tidak lama kami diajak guide untuk makan malam. Lokasi di camp II
hampir sama luasnya dengan camp I hanya saja udara dicamp II lebih dingin dan
berkabut. Di camp II pun sudah tersedia kamar mandi dan bak air yang besar di
luarnya. Tidak perlu takut kehabisan air jika mendaki Fansipan. Pendakian yang
cukup melelahkan apalagi kami dipacu dengan waktu yang mengharuskan kami tiba
di camp II sebelum gelap. Waktu menunjukkan jam 9 malam, kami sudah siap dengan
di dalam sleeping bag dan mengucapkan selamat tidur satu sama lain. Hawa dingin
dan rasa lelah cepat mengantarkan kami dalam lelap malam itu.
Keesokan harinya pada Minggu, 23
Juni tim melakukan summit attack.
Jika kemarin waktu tempuh dari Tram Ton ke camp II memakan waktu 5-6 jam, kini
untuk sampai di puncak Fansipan dari camp II hanya 1,5 – 2 jam. Cuaca hujan
rintik kecil sejak pagi berbeda
dengan hari kemarin. Jam 6 pagi kami bangun. Rasa dingin yang semakin menjadi membuat kami
malas untuk keluar dari hangatnya sleeping
bag. Tapi kami harus melanjutkan pendakian ke puncak. “hari ini kita harus
tambah kecepatan dalam mendaki dan turun nanti karena kereta menuju Hanoi
berangkat jam 07.30 pm. Atau kita akan telat dan terburu-buru”, ujar Ida
mengingatkan tim. Menu sarapan pagi ini adalah daging, lezat sekali. Tapi kami
perlu hati-hati karena di Vietnam, daging babi atau pork adalah lauk yang
diminati. Benar saja, makan pagi yang disuguhkan kepada kami selain ayam juga pork. Wow, langsung saja kami kembalikan
kepada guide dan berkata, “sorry, we don’t eat pork.”
Kabut
belum juga mau mengalah kepada matahari. Hari masih pagi jam 7 kami summit attack. Untuk ke puncak, kami
hanya membawa satu cerrier yang berisi minuman dan bendera-bendera yang akan
kami dokumentasikan di puncak Fansipan. Untunglah kami membawa trekking pool alat pembantu menumpu
tubuh kami ketika menanjak. Ternyata medan yang dilalui masih saja dengan
kontur naik turun. Kami melewati aliran sungai yang cukup lebar namun kering.
Kadang kami harus melipir tipis dengan jurang di sebelah kanan. Sekitar tiga
tangga besi masih akan kami temui. Kami berada di dalam hutan basah. Lumut jelas
mendominasi tanah dan dinding-dinding batu. Sehingga kami harus ekstra
hati-hati agar tidak tergelincir. Di tengah perjalanan terdapat air terjun kecil
yang harus dilewati. Sampai juga kami di puncak Fansipan pada pukul 08.45 am. “Itu
segitiganya!”. di Puncak Fansipan terdapat tugu segitiga yang terbuat dari seng
berwarna putih. Tugu itu ada tulisan ‘Fansipan 3143m dengan lambang bintang
diatasnya. Bintang merupakan lambang negara Vietnam. Cuaca tetap berkabut
tebal sehingga tim kurang beruntung tidak dapat melihat pemandangan. Angin pun bertiup kencang. Kami tidak bisa memandang jauh karena kabut
yang menutupi. Luas puncak tidak terlalu lebar. Terdapat batu-batu besar yang
menjadi tempat dipasangnya tugu segitiga. Kami menaiki batu-batu besar tersebut
untuk menyentuh tugu dan mendokumentasikan gambar. Para pendaki lain
berdatangan dan bergantian menyentuh tugu.
Hanya
setengah jam tim merayakan selebrasi dan berpoto-poto di puncak lalu segera
turun kembali ke camp II. Perjalanan turun lebih cepat satu jam dari ketika naik. Seusai packing
tenda dan perlengkapan lainnya, kami menikmati makan siang di dalam bedeng. Jam
12 siang kami melanjutkan perjalanan turun dengan jalur yang sama ke pintu Tram
Ton. Di tengah perjalanan akhirnya pertanyaan kami terjawab. Kami bertemu
dengan seorang petani yang sedang naik sambil membawa kerbaunya. Lokasinya sekitar
ketinggian 2.000 mdpl. Karena kami sedang ngebut turun, kami tidak sempat
bertanya-tanya atau mengambil poto kerbau tersebut. Perjalanan turun memang
memakan waktu lebih cepat sekitar 3 jam. Namun rasanya sungguh melelahkan. Jauh
lebih lelah dari pada ketika naik. Kami terbilang ngebut untuk sampai di Tram
Ton. Istirahat hanya sekali ketika di camp I selama 30 menit. Setelah itu kami
hanya istirahat 1-5 menit saja di tengah perjalanan. Bagi yang tidak biasa hiking, perlu mental ekstra. “Fansipan
adalah kombinasi dari gunung-gunung yang pernah saya daki. Tingginya memang
hanya 3.143 mdpl tapi treknya luar biasa. Ketika kau turun dari puncak dan
kembali ke desa, kau harus mendaki banyak puncak bayangan terlebih dahulu. Dan
itu seperti ketika kau memulai pendakian”. Fisik sudah
gontai ditambah rasa ‘gemes’ karena kami sudah turun tetapi medan di depan
masih harus menanjak lagi. Pukul 03.15 pm kami sampai di Tram Ton. Luar biasa
lelahnya. Semua tubuh
sudah terlepas dari beban cerrier yang selalu menempel di badan selama dua hari,
kami langsung meregangkan tubuh sembari melihat-lihat beberapa pedagang yang
membuka lapak souvenir khas Sapa.
Hiasan patung kecil berbentuk tubuh
perempuan mengenakan pakaian adat wanita Vietnam dan memakai topi caping
sepakat kami bungkus untuk kami pajang di lemari sekretariat kami tercinta di
kampus. Mulai dari ukuran yang paling besar hingga kecil. Salah satu dari kami
membeli pakaian khas Hmong ukuran anak kecil. Lucu dan unik sekali. Sayangnya
di Tram Ton ini tidak ada pilihan baju Hmong ukuran dewasa. Kami harus mencari
di pusat Desa Sapa jika ingin membelinya. Baju suku Hmong memang unik. Warnanya
berwarna-warni dan motifnya beragam, ada bunga, binatang, dan abstrak. Harganya
kisaran 50.000 VND atau IDR 25.000. murah bukan?!
Di pusat Desa Sapa ramai dengan
hotel, restaurant, dan pusat perbelanjaan. Bagi kami para adventurer, akan dimanjakan dengan beberapa toko outdoor equipment.
Disinilah toko The North Face (TNF)
menjamur. Mulai dari barang asli hingga tiruannya. Produk TNF jika di
Indonesia, sangatlah mahal harganya. Tetapi jika di sini, tentu jauh lebih
murah karena TNF merk asal Vietnam.
Setelah berpamitan kepada agency,
kami diantar menuju Stasiun Lao Cai. Kereta kami berangkat pukul 07.30 pm. Biaya
yang kami keluarkan untuk tiket kereta sekitar 615.000 VND. Lebih murah dari
pada kereta ketika berangkat karena perbedaan kelas/tipe kasur (hard bed/soft
bed). Tiga hari berada di Sapa belumlah puas bagi kami. Rasanya masih ingin
melihat Sapa dari sisi lebih dalam, terutama dengan Suku Hmong nya.
Warna-Warni
Masyarakat Hmong
Sapa adalah nama desa terakhir yang
kami lewati sebelum memulai pendakian. Secara bentang alam, Sapa sekilas mirip
dengan Puncak Pass di Bogor. Dataran tingginya, sawah yang berundak-undak,
lereng-lerengnya tidak jauh berbeda. Tetapi perbedaan yang sangat terasa ialah jika Puncak Pass sudah sangat modern dan penuh dengan
hotel, villa, dan restaurant, sementara Sapa masih sepi disekitar pinggiran
jalan raya nya. Ramai dengan bangunan hanya di pusat Desa Sapa saja yang
menyuguhkan pusat perbelanjaan, restaurant, dan
hotel
untuk para wisatawan. Sapa merupakan daerah yang selalu
ditutupi oleh kabut. Disana, sinar matahari adalah sesuatu yang sangat mahal
alias jarang.
Di Sapa terdapat
masyarakat asli yang bernama Hmong. Ciri khas dari mereka adalah memakai ikat
kepala dan pakaian yang khas bermotif. Suku Hmong terdiri dari beberapa
kelompok, yakni Black Hmong, Red Hmong dan Flower
Hmong. Mereka tinggal di daerah pegunungan dan tersebar di negara China, Laos, Kamboja,
Thailand dan Vietnam. Hmong
sendiri dikenal sebagai suku pegunungan yang sangat lihai bercocok tanam. Namun seiring
perkembangan Sapa sebagai tempat wisata, mereka pun banyak yang bekerja sebagai
porter dan guide serta penghasil/pengrajin handmate
yang akan dijual sebagai souvenir. Mereka memiliki bakat yang sangat artistik yaitu menyulam,
menenun, merajut benang-benang menjadi suatu kerajinan tangan. Mereka sangat ramah dengan para wisatawan. Hasil karya suku Hmong diantaranya tas etnik, baju tradisional, gelang,
kalung, hasil tenunan atau rajutan. Desain motif tenun suku Hmong menggambarkan alam atau binatang
seperti bunga dan serangga, serta cenderung menggunakan warna-warna cerah seperti
kuning, merah, biru, hijau, atau oranye.
Kami hanya sebentar berada di Sapa
namun kami memperoleh informasi tentang Hmong melalui wawancara seorang
perempuan Hanoi yang pernah tinggal lama di Sapa. Orang-orang Hmong banyak yang
tinggal di gunung Fansipan menjajakan dan menjual makanan minuman untuk para
pendaki. Kepercayaan yang dianut oleh mereka adalah animisme
dengan mempercayai roh-roh dan menyembah gunung. Mereka percaya bahwa gunung
memiliki kekuatan dalam pengaturan keberlangsungan kehidupan mereka.
Suku Hmong tetap
setia pada adat budayanya, terbukti mereka masih mempertahankan bakat seni mereka sebagai penghuni alam
rimba dan hidup di daerah pegunungan. Setiap sub
etnik suku Hmong ini mempunyai ciri khas masing-masing dalam berpakaian. Flower
Hmong pakaiannya warna warni. Black Hmong berpakaian hitam hitam. Sedangkan Red
Hmong berpakian hitam dengan kombinasi warna merah serta ikat kepala merah.
Kami tidak banyak mendapat informasi tentang asal sejarah suku Hmong. Berdasarkan legenda dan cerita rakyat mereka menunjukkan kemungkinan mereka berasal dari Mesopotamia. Mereka bermigrasi dari Rusia, Mongolia, dan akhirnya ke pegunungan Tiongkok Selatan, Vietnam, Laos, dan Thailand. Orang Tionghoa sendiri menyebut mereka suku “Miao,” sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang termasuk kaum imigran minoritas. Sedangkan mereka menyebut diri mereka sendiri “suku dataran tinggi/ highlanders.” Hmong adalah suku minoritas yang mendapat perlakuan diskriminasi dari masyarakat Vietnam maupun penduduk di negara lain. Hal ini dikarenakan suku Hmong terbilang suku yang misterius sehingga pada zaman dahulu Hmong digusur dari tanah mereka sendiri oleh masyarakat.
Indonesia di mata Vietnam
Kami tidak banyak mendapat informasi tentang asal sejarah suku Hmong. Berdasarkan legenda dan cerita rakyat mereka menunjukkan kemungkinan mereka berasal dari Mesopotamia. Mereka bermigrasi dari Rusia, Mongolia, dan akhirnya ke pegunungan Tiongkok Selatan, Vietnam, Laos, dan Thailand. Orang Tionghoa sendiri menyebut mereka suku “Miao,” sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang termasuk kaum imigran minoritas. Sedangkan mereka menyebut diri mereka sendiri “suku dataran tinggi/ highlanders.” Hmong adalah suku minoritas yang mendapat perlakuan diskriminasi dari masyarakat Vietnam maupun penduduk di negara lain. Hal ini dikarenakan suku Hmong terbilang suku yang misterius sehingga pada zaman dahulu Hmong digusur dari tanah mereka sendiri oleh masyarakat.
Dalam
bidang pendidikan, Hmong sangat minim tingkat pendidikannya. Mereka sebagian
besar tidak mengenyam bangku sekolah. Mengapa? Suku Hmong tinggal di gunung
dengan jarak yang berjauhan. Membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal
untuk bisa mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah. Oleh karena itu suku Hmong
tidak terlalu memprioritaskan tingkat pendidikan. Tidak banyak dari mereka yang
bisa membaca dan menulis.
Kami sedikit menggarisbawahi tentang tradisi pernikahan
pada suku Hmong. Menariknya, Hmong terkenal dengan perjodohan antar keluarga
yang telah menjadi tata cara dalam pernikahan. Pernikahan adalah hal yang
sakral dan suci. Kesetiaan merupakan pondasi dasar pernikahan. Sebaliknya
ketidaksetiaan dalam pernikahan merupakan dosa terbesar yang sulit dimaafkan.
Pelakunya akan diberikan ganjaran yang lebih keras dibandingkan dengan dosa
melakukan pembunuhan. Angka perceraian pun hampir tidak ada. Pernikahan pada
Hmong dilakukan sekali seumur hidup, dengan satu orang kecuali jika pasangan
mereka meninggal.Indonesia di mata Vietnam
“Kalian perlu tau bahwa orang Indonesia di Vietnam
sangatlah dihargai dan terpandang. Kalian bagaikan orang Amerika yang sedang
berkunjung ke Indonesia. Begitulah perumpamaannya. Orang Indonesia terkenal
keramahan dan kerendahan hatinya. Kita harus jaga itu. Disini kalian tak perlu
takut”, cerita Pak Raihan lagi kepada kami. Wah..kami semakin percaya diri
disini. Kami teringat pesan dan wejangan dari rektor kami, Prof. Dr. Bedjo
Sujanto, M.Pd. Beliau memberi pesan ketika kami berpamitan, “Dimanapun termasuk
di negeri orang sana, kalian harus bangga dengan almamater kita. Bangga dengan
negeri Indonesia. Tidak perlu minder dan takut. Ramahlah pada siapapun dan
jalin relasi lalu jagalah”.
Bila mendengar kata Vietnam, yang ada
dalam benak kita pasti gambaran
perang yang sadis serta memakan banyak korban. Dalam perang
Vietnam, Amerika dan pasukannya menjadi bulan-bulanan pasukan
Vietnam hingga akhirnya Amerika kalah. Tetapi ternyata Vietnam memiliki sejarah kedekatan yang
baik dengan Indonesia. Uncle Ho berkawan dekat dengan Bung Karno. Keduanya
adalah tokoh besar bagi bangsanya. Bung Karno
dan Ho Chi Minh sama-sama tokoh pergerakan yang piawai menggelorakan semangat
juang dan jiwa merdeka rakyat semesta. Indonesia dan Vietnam memproklamasikan
kemerdekaannya pada tahun yang sama, 1945. Jika Indonesia merdeka tanggal 17
Agustus, maka Vietnam merdeka 29 Agustus. Tetapi Vietnam masih didatangi dan dijajah oleh bangsa Eropa yakni Prancis
dan Amerika.
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia untuk semua wilayah
kepulauan eks Hindia Belanda, sekalipun kemudian dipecah-pecah dalam beberapa
perjanjian dengan Belanda, sebelum akhirnya kembali ke Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Sebaliknya, Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan Indo China yang
meliputi semua bekas jajahan Perancis, sekalipun pada akhirnya hanya meliputi
Vietnam Utara. Indonesia
merdeka dengan Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Sedangkan Vietnam
merdeka dengan ideologi komunis, dan menyisakan kaum borjuis yang rela
membentuk negara-negara boneka eks penjajahnya. Pancasila sebagai ideologi yang
digagas Bung Karno, jauh lebih universal, jauh lebih mampu mengakomodir
kepentingan individu di setiap negara mana pun, dibanding komunisme.
Di sisi lain, Dalat, Ibukota Propinsi Lam Dong di
Vietnam punya histori panjang tentang sejarah
Proklamasi Kemerdekaan RI. Dari sinilah, para Pendiri Bangsa antara lain
Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat harus buru-buru terbang ke
Dalat untuk menemui Marsekal Terauchi—Panglima Pasukan Jepang di Asia
Tenggara—hanya untuk satu urusan penting yaitu menerima “kabar gembira” tentang
kemungkinan Jepang kalah dalam Perang Asia Timur Raya. Itulah
kisah Vietnam dan Indonesia yang saling berkaitan.
Salah
satu peristiwa yang menarik yaitu ketika kami bertemu dengan seorang kakek tua
yang jenggot dan rambut gondrongnya sudah memutih. Ia terlihat seperti pengamen
namun elegan. Alat yang ia bawa diantaranya tas ransel besar, daftar lirik
lagu-lagu dan kunci nadanya, speaker, dan alat musiknya yakni gitar tradisional
(seperti ukulele). Kakek tua ini menarik perhatian kami yang sedang berkeliling
danau Haon Kiem. Langsung saja kami menghampirinya untuk berpoto bersama. Tak
disangka kakek tersebut menyadari kami berasal dari Indonesia karena melihat
seragam kami. Ia berteriak “Jakarta!”. Kami terkejut namun langsung mengiyakan
sambil tersenyum ramah. Saat itu juga si Kakek berkata yang artinya ia akan
menyanyikan sebuah lagu Indonesia. Ketika ia mainkan lagu tersebut, kami
langsung sadar dan ikut bernyanyi bersama. Malam itu, sebelumnya sepi dari
penonton menjadi ramai karena kehebohan kami bernyanyi bersama. Lantas kami
jadi artis sejenak kala itu. Dua buah lagu yang dinyanyikan oleh si Kakek
adalah lagu daerah Ayo Mama dan lagu wajib nasional Rayuan Pulau Kelapa ciptaan
Ismail Marzuki. Si kakek menyanyikan liriknya dengan semangat dan hapal meski
terdengar aneh karena cengkok bahasa vietnamnya. Kami sangat terharu bahwa
orang Vietnam mengenal baik Indonesia bahkan sampai ke lagunya. Betapa dimasa
lalu Indonesia sangat memiliki peran di negara bekas jajahan Prancis ini.
Menariknya
lagi, bagi penduduk Vietnam tepatnya di Hanoi, makan menggunakan tangan
langsung adalah hal yang tabuh. Mereka dengan makanan utama mie tentu terbiasa
menggunakan sumpit atau sendok untuk sup nya. Kami menyadari itu ketika sedang
makan di sore hari di pinggir danau Hoan Kiem. Kebetulan di kemasan makanan
kami, tidak ada sendok atau sumpit. Maka hemat kami langsung makan menggunakan
tangan seperti yang biasa dilakukan
orang Indonesia. Perilaku kami ini menjadi perhatian setiap orang Vietnam yang berlalu
lalang melewati kami. Bahkan ada yang masih melihat kami meski jaraknya jauh.
Mereka yang berani, banyak yang menyapa kami dan bertanya, “Indonesia?!
Jakarta?!”. Dan kami menjawab “yes yes”, sambil tersenyum.
Sahabat baru
Pada
Senin, 24 Juni setelah cukup istirahat seusai pendakian Fansipan, kami berkeliling Hanoi
tepatnya ke Danau Hoan Kiem dengan berjalan kaki. Bermodalkan peta Kota Hanoi,
kami hanya berempat menyusuri jalanan.
Memang lebih seru berjalan kaki karena dapat mampir ke toko dan tempat yang
dirasa unik atau sekedar menghampiri warga Vietnam untuk berpoto bersama. Danau
Hoan Kiem merupakan danau yang ramai dikunjungi orang-orang. Selain
dekat sekali dengan pusat perbelanjaan, di tengah danau juga terdapat kuil dan
jembatan merah. Sore hari kami berkeliling Danau
Hoan Kiem bertemu dengan warga Vietnam yang banyak menyapa karena penampilan kami
yang sangat berbeda. Tiga dari kami memang menggunakan
jilbab dan mengenakan seragam dinas lapangan
yang memasang emblem bendera merah putih di lengan sehingga siapapun tau bahwa kami
dari Indonesia.
Kami berkenalan dengan dua orang
pribumi Hanoi. Mereka juga berstatus mahasiswi. Bernama Ivan dan Hoa. Mereka
ramah sekali kepada kami dan bersedia menemani kami berbelanja di pusat belanja
di jalan Gang Hai. Bersama mereka, kami tidak kesulitan dalam menawar barang
sehingga kami mendapatkan harga lebih murah. Kami membelikan souvenir sebagai
kenang-kenangan kepada mereka. Malam semakin larut, kami semua lelah dan pegal
sedari siang berkeliling. Ivan dan Hoa mengantar kami hingga depan gang Hotel
tempat kami menginap. Mereka takut kami tersasar. Setelah bersalaman dan
berpelukan, kami pun berpisah. Meski sebentar namun sangat berkesan. Mereka
sangat baik.
“Kami tidak akan lupa kenangan
singkat yang sangat berkesan di Hanoi. Kami mendapat dua orang teman baru di
Hanoi yang menemani kami berbelanja dan menawar harga. Mereka baik sekali.
Begitu pula dengan pihak KBRI yang telah menjamu kami. Terima kasih…yang kami
berikan hanya mengibarkan merah putih di atap tertinggi Indochina”, kata Ida.
Vietnam terbagi
menjadi dua wilayah, yakni Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Hanoi adalah ibu kota
negara Vietnam terletak di Vietnam Utara. Hanoi sendiri memiliki arti ‘berada
diantara dua sungai’. Maksudnya yaitu Kota Hanoi berada di wilayah yang banyak
memiliki sungai-sungai. Vietnam memang memiliki banyak wilayah perairan yakni
sungai dan danau yang terbentang luas. Baik itu danau alami maupun buatan
manusia. Hanoi pun dijuluki sebagai kota 1.000 danau. Ada hal menarik mengenai
asal muasal Vietnam memiliki banyak danau. Dahulu Ho Chi Minh - seorang
tokoh proklamator Vietnam, sekaligus Perdana Menteri (1954) dan Presiden
Vietnam Utara (1954 - 1969) – gemar sekali memancing. Ia semasa hidupnya ketika
pergi kemanapun di wilayah Vietnam, selalu menyempatkan untuk memancing. Oleh
sebab itu, masyarakat membuat banyak danau untuk Ho Chi Minh supaya ia bisa
memancing sekaligus sebagai penghormatan. Vietnam
Rose
- negara dengan ladang seribu ranjau – adalah julukan bagi negara Vietnam yang baru merdeka dan
bersatu pada 2 Juli 1976 setelah berhasil memukul mundur tentara Amerika
Serikat pada Perang Vietnam (1959-1972).
Red River, nadi utama Vietnam Utara
Kota Hanoi dilalui oleh sebuah
sungai besar yang membelahnya, dan menjadi salah satu sarana transportasi di
kota tersebut. Sungai tersebut mengalir dari negara tetangga China sehingga
memiliki peran dalam menjaga stabilitas keamanan antarkedua negara. Sungai
tersebut dinamakan Sungai Merah (Red River), karena memang warnanya dari kejauhan tampak kemerah-merahan. Sungai
ini merupakan pusat dari semua kegiatan ekonomi di Vietnam utara. Kota Hanoi merupakan kota yang
cantik dan memesona. Beberapa peninggalan perang Vietnam masih tampak berdiri
tegak dan sengaja dipertahankan.
Salah satu tempat menarik yang kami kunjungi di kota Hanoi ini adalah danau di pusat tengah kota. Danau tersebut cukup luas dengan kuil di tengahnya. Di sekeliling danau tampak pusat pertokoan, kafe, restoran, dan hotel berbintang ramai dikunjungi turis. Masyarakat Ha Noi menjadikan danau di tengah kota tersebut sebagai tempat bersantai dan bercengkerama. Tampak dari pagi, siang hingga malam hari, sepanjang pinggir danau selalu dipadati pengunjung baik yang berjalan kaki, olahraga, duduk ataupun berkendara. Taman-taman bunga ditanam disekeliling danau sehingga menambah keelokan pemandangannya. Di sudut pinggir danau, terdapat jam besar yang berada di hamparan bunga-bunga warna warni.
Salah satu tempat menarik yang kami kunjungi di kota Hanoi ini adalah danau di pusat tengah kota. Danau tersebut cukup luas dengan kuil di tengahnya. Di sekeliling danau tampak pusat pertokoan, kafe, restoran, dan hotel berbintang ramai dikunjungi turis. Masyarakat Ha Noi menjadikan danau di tengah kota tersebut sebagai tempat bersantai dan bercengkerama. Tampak dari pagi, siang hingga malam hari, sepanjang pinggir danau selalu dipadati pengunjung baik yang berjalan kaki, olahraga, duduk ataupun berkendara. Taman-taman bunga ditanam disekeliling danau sehingga menambah keelokan pemandangannya. Di sudut pinggir danau, terdapat jam besar yang berada di hamparan bunga-bunga warna warni.
Suatu hal yang patut dikagumi, walaupun
padat dengan penduduk dan kendaraan bermotor, namun kota Hanoi bebas polusi,
maksudnya jarang sekali kami melihat orang-orang memakai masker atau helm full face. Gas pembuangan kendaraan
bermotor sudah ramah lingkungan. Tidak ada asap pekat hitam yang mengebul.
Jalan raya di Kota Hanoi terdapat banyak persimpangan yang jaraknya relatif
dekat. Oleh karena itu para pengendara mengendara dengan pelannya. Tidak ada yang
kebut-kebutan. Beberapa
suvenir menarik yang menjadi ciri khas dari kota ini
diantaranya seperti
topi petani Vietnam, topi perang Vietkong, Zipo dengan gambar tentara Vietkong,
kaus dan lain sebagainya.
Makanan khas Vietnam hampir sama dengan Indonesia. Sebagian besar dari
sayuran, sea food atau daging babi. Bagi yang tidak mau makan daging babi harus
hati-hati karena makanan ini merupakan menu utama dan tersedia di mana-mana.
Tangguhnya
wanita Vietnam
Perjalanan keluar dari bandara Noi
Bai Hanoi, kami dikejutkan dengan pemandangan yang jarang kami lihat. Bandara
Noi Bai sedang dalam penambahan bangunanan sehingga areanya banyak alat berat,
traktor, galian tanah, dan sebagainya. Dari dalam mobil kami melihat galian
tanah yang didalamnya ada seorang pekerja bangunan sedang entah menggali atau
mengecek. Banyak lubang galian tanah, namun pekerja yang berada didalamnya
adalah perempuan! Sementara para pekerja lelakinya berada di atas dengan
santai. Ini bukanlah perpeloncoan atau uji coba. Memang seperti itu di Vietnam.
Perempuan-perempuan Vietnam sangat tangguh. Mereka terbiasa bekerja kasar dan
berat. Pedagang makanan, sayur dengan bawaan yang berat, dipikul oleh
perempuan. Bahkan ketika malam hari, kami menyusuri jalan menuju Hotel
berpapasan dengan pekerja kebersihan. Mereka membawa gerobak sampah
masing-masing. Mereka memindahkan sampah dari tempat sampah pinggir jalan ke
gerobak. Mereka adalah perempuan. Perempuan-perempuan dengan usia muda ya
seperti kami. Kami tidak menyangka perempuan-perempuan bak artis korea itu
dengan seragam dinas kebersihannya lihai mengoper sampah.
Perempuan di Vietnam banyak yang
menjadi pencari nafkah disamping lelakinya juga bekerja. Perempuan Vietnam
tidak malu bekerja kasar/buruh. Kami teringat dengan suku Hmong dimana wanita
Hmong lebih mendominasi dari pada pria Hmong. Wanita Hmong lebih banyak tampil
di masyarakat. Para pedagang souvenir pun kebanyakan wanita. Flash back ketika di Fansipan, kami
terkesima melihat seorang wanita Hmong menjadi porter dari turis mancanegara.
Lincah dan energik. Mengetahui wanita Vietnam adalah wanita yang tangguh, kami
menjadi semakin percaya diri dan semangat.
Misi Indonesia
Women Expedition
Kegiatan
ini tidak hanya sekedar pendakian Mt. Fansipan, tetapi kami membawa misi. Misi kami tuangkan
dengan melakukan
sosialisasi di Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Hanoi. Jarak KBRI dengan
hotel kami tidaklah jauh. Jika berjalan kaki hanya 10 menit. Di KBRI ini kami
mempresentasikan profil kegiatan Indonesia Women Expedition dan
mensosialisasikan sumber daya energi terbarukan yaitu Solar System kepada pihak
KBRI sebagai upaya mengkampanyekan hemat energi melalui energi alternatif. Pada
saat itu Duta Besar RI Mayerfas sedang ada di tempat namun sayang karena
kesibukannya, beliau tidak dapat menghadiri presentasi kami.
Dalam
kegiatan ini Andra sebagai ketua pelaksana memaparkan tentang profil kegiatan Indonesia Women Expedition, kemudian
dilanjutkan oleh Nur Hidayati yang menyampaikan tentang penggunaaan energi
terbarukan yaitu solar system.
Berdasarkan data dari Masyarakat
Energi Terbarukan Indonesia (METI) cadangan bahan bakar
minyak akan habis dalam waktu ±20 tahun. Oleh sebab itu dalam sosialisasi ini
dipaparkan mengenai energi alternatif solar
system yang merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang tak akan
habis. Kami juga menghimbau untuk menghemat energi yang kita gunakan saat ini. Solar system adalah energi yang
menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi yang kemudian di tangkap oleh
panel-panel surya. Di dalam panel tersebut tersimpan energi yang dihasilkan
oleh matahari yang dapat digunakan kapan saja. Di Indonesia sendiri telah
banyak didirikan panel surya seperti di Bangli, Bali ; Papua Barat ; Kalimantan
Tengah ; Jombang, Ja-Tim; Tatibajo, Sul-Bar; Gili Trawangan, Lombok; Bandara
Radin Inten, Bandar Lampung; Pulau Sebira, Kepulauan Seribu, dan lain-lain.
Pihak KBRI sangat antusias
mengetahui maksud dan tujuan kami datang ke Hanoi. Bagi mereka, ini kali
pertama ada mahasiswa putri dari Indonesia yang ingin mendaki Gunung Fansipan.
Sebelum poto bersama, beberapa staff dari KBRI bercerita tentang masyarakat di
Hanoi dan yang tidak kalah pentingnya ialah informasi-informasi tentang Desa
Sapa, desa yang akan kami singgahi sebelum mendaki ke Gunung Fansipan.
“Saya sangat bangga dan kagum pada
kalian. Saya sampai terheran-heran tau kalau kalian hanya berempat dan
perempuan semua pula. Tidak didampingi seorang laki-laki satupun”, komentar
dari Pak Sadikin yang merupakan pejabat fungsi protokol dan konsuler di KBRI
sekaligus moderator saat kami presentasi. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Kami
bersama-sama menyantap makan siang sambil berbincang-bincang.
Sangat dianjurkan sekali jika kita
bertandang ke negeri orang, berkoordinasi terlebih dahulu dengan kedutaan besar
Republik Indonesia di negara tersebut. Karena bagaimanapun juga kita adalah
warga asing disana dan perlu memperhatikan keamanan dan kenyamanan disana. KBRI
lah tempat yang paling aman menurut kami, ya jelas karena kami WNI. Selain itu
kegiatan ini membawa misi tersendiri yakni mengangkat sosok perempuan-perempuan
Indonesia di kancah internasional. Zaman sekarang, perempuan Indonesia telah
marak berkarya sampai go international
di berbagai bidang. Kami pun ingin turut menyumbang menoreh sejarah dalam
bidang adventure melalui pendakian
gunung-gunung di dunia. “Jika dulu kami saksi sejarah para sahabat-sahabat,
sekarang kami adalah bagian dari pengukir sejarah!”, ujar Ida selaku
koordinator bagian operasional IWE.
Kegiatan Indonesia Women Expedition
2013 selesai setelah sebelumnya melakukan latihan fisik mendaki di Gunung Gede,
Cibodas dan melakukan kampanye memperingatkan hari Kartini dan Hari Bumi serta
hemat energi di pintu Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Jawa
Barat. Tahun depan akan ada gunung-gunung yang menunggu
untuk kami daki. Perempuan juga bisa! . Nur Hidayati (NH).
Info ...
- Kurs mata uang Vietnam Dong lebih rendah dari rupiah. 20.000 VND sama dengan IDR 40.000.
- Siapkanlah mata uang dollar dari Indonesia. Untuk menukar dari dollar ke mata uang dong, lebih baik dilakukan ketika sudah tiba di Vietnam. Nilai tukarnya yaitu 1 USD sama dengan 21.000 VND.
- Jangan lupa menyiapkan dan mambawa selalu kamus mini bahasa Vietnam. Ini bisa memudahkan kita jika ingin membeli barang atau mencari alamat.
- Tidak ada perbedaan waktu antara Hanoi, Vietnam dengan Jakarta.
- Di Hanoi, matahari tenggelam pukul 06.50 pm.
- Waspada terhadap makanan di Vietnam. Pastikan makanan yang kita pesan bukanlah daging babi. Di Hanoi, Vietnam lauk utamanya ialah daging babi.
- Sangat sedikit menemukan restaurant berlabel ‘Halal’ di Hanoi.
- Mie adalah makanan pokok di Vietnam seperti hal nya beras/nasi yang menjadi bahan utama jika makan.
- Di Kota Hanoi terdapat banyak danau. Sehingga disebut Kota Seribu danau.. Ho Chi Minh adalah seorang tokoh proklamator dan presiden Vietnam yang memiliki kekerabatan sangat erat dengan Ir. Soekarno. Indonesia adalah Soekarno, itulah image di mata warga Vietnam.
- Jika kalian pengguna produk The North Face, maka mampirlah ke Sapa karena disana ada beberapa outlet-outlet TNF. Dan harganya pasti lebih miring dibanding di Indonesia.
- Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke negeri China dari Lao Cai. Tapi tentu harus memiliki Visa.
- Gunung Fansipan menduduki peringkat nomor 12 dalam daftar 7 keajaiban baru dunia.
- Di Hanoi, terdapat museum Ho Chi Minh yang merupakan makam beliau. Di dalamnya terdapat jasad Ho Chi Minh yang masih utuh tampak seperti fisik manusia hidup. Tetapi kamera dan alat gadget dilarang dibawa masuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar