Sadar akan situasi,Untung rugi tergantung ketenangan diri,Rasa takut harus dikuasai,Viva harus dihargai,Ingat dimana kau berada,Vakum harus diisi,Adat setempat harus diikuti,Latih dirimu dan belajarlah. SURVIVAL
Selasa, 25 Oktober 2011
lebih dari kata
Pasir putih berarak pergi
Dengan lembut daun melambai
Dapatkah aku telusuri
Sesuatu yang tak bertepi
Adakah kau temani
Bersama ku disini
Ingini kaki berlari
Bersama riangnya sang mentari
Telahkah ku sampai
Ataukah sebatas mimpi
Tak akan kusesali
Hinanya hidup ini
Coba tengok aku disini
Mengharap kau kasihi
Bukan kau dustai
Jangan tanyakan kami
Yang hanya menghitung hari
Harusnya ku ajak burung bernyanyi
Dan ku coba tuk menari
Tapi mengapa tak kau iringi
Sebaliknya kau hindari
Tinggallah kini ku sendiri
Ditemani angin yang berhembus sepi
Hidup dengan rasa mati
Embun terasa bagai sepercik api
Hanya waktu yang menghormati
Hanya bulan yang setia pada bumi
Semua tahu dunia itu ramai
Tapi jangan buat ini sunyi
Kau dimana begitu hampa aku disini
Hidup yang kumiliki
Sebatas tulisan tak berarti
Rumput pun tertawa geli
Semua terasa usai
Inikah yang kau beri
Jauh berbeda dari kisah sejati
Padahal langit memberiku janji
Mungkin akan terkabul nanti
Dan tak pernah lelah tuk ku menanti
Sambil ku tunggu sang merpati
Datang tuk kabari
Ingin kutulis sebuah puisi
Untukmu dari hati
Dengan lembut daun melambai
Dapatkah aku telusuri
Sesuatu yang tak bertepi
Adakah kau temani
Bersama ku disini
Ingini kaki berlari
Bersama riangnya sang mentari
Telahkah ku sampai
Ataukah sebatas mimpi
Tak akan kusesali
Hinanya hidup ini
Coba tengok aku disini
Mengharap kau kasihi
Bukan kau dustai
Jangan tanyakan kami
Yang hanya menghitung hari
Harusnya ku ajak burung bernyanyi
Dan ku coba tuk menari
Tapi mengapa tak kau iringi
Sebaliknya kau hindari
Tinggallah kini ku sendiri
Ditemani angin yang berhembus sepi
Hidup dengan rasa mati
Embun terasa bagai sepercik api
Hanya waktu yang menghormati
Hanya bulan yang setia pada bumi
Semua tahu dunia itu ramai
Tapi jangan buat ini sunyi
Kau dimana begitu hampa aku disini
Hidup yang kumiliki
Sebatas tulisan tak berarti
Rumput pun tertawa geli
Semua terasa usai
Inikah yang kau beri
Jauh berbeda dari kisah sejati
Padahal langit memberiku janji
Mungkin akan terkabul nanti
Dan tak pernah lelah tuk ku menanti
Sambil ku tunggu sang merpati
Datang tuk kabari
Ingin kutulis sebuah puisi
Untukmu dari hati
...
Marilah sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga dari kantuknya
kini mengembara menyusuri pegunungan dan jurang-jurang
Mari menapaki jejak musim semi yang menjelang
Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan
‘Tuk menadah ilham dari tempat ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.
Kemarilah sayang mari meneguk sisa mata air
musim dingin, dari piala kelopak bunga lili,
menentramkan jiwa, dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung bernyanyi
dalam gita sukacita dibius angin mamiri
Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga fiola ungu
berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.
Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga dari kantuknya
kini mengembara menyusuri pegunungan dan jurang-jurang
Mari menapaki jejak musim semi yang menjelang
Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan
‘Tuk menadah ilham dari tempat ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.
Kemarilah sayang mari meneguk sisa mata air
musim dingin, dari piala kelopak bunga lili,
menentramkan jiwa, dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung bernyanyi
dalam gita sukacita dibius angin mamiri
Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga fiola ungu
berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.
Sabtu, 01 Oktober 2011
LAPORAN KEGIATAN TRY OUT CAVING
KODIKLATSAR XXX KMPA EKA CITRA UNJ
Try out caving merupakan try out terakhir dalam rangkaian kodiklatsar xxx. Try out kali ini bisa dibilang try out spesial dan yang paling santai dibanding try out sebelumnya. Tepat dengan momen malam pergantian tahun baru, itulah yang membuat suasana berbeda dan spesial. Sesuai seperti yang sudah dijanjikan oleh Ka Haris selaku wadan kodiklatsar ini bahwa ‘try out caving kita akan have fun dan senang-senang’. Dan itu terbukti setelah saya mengikuti try out caving pada 31 Des 2010-1 Jan 2011. Dengan persiapan yang sama sejak hari Kamis, saya ceklist perlengkapan. Perlengkapan yang berbeda adalah membawa wearpack, helm, dan headlamp yang merupakan perlengkapan wajib caving. Selain ceklist perlengkapan, instruktur juga memberi pendalaman praktek SRT (single rope technic). Kami diharapkan untuk lancar praktek SRT karena akan diaplikasikan di try out dan aplikasi akhir nanti. Saya pun rajin setiap hari 3 kali berturut-turut datang pendalaman praktek SRT ini supaya bertambah lancar sekaligus menghilangkan trauma saya yang pernah jatuh dari ketinggian entah 2 atau 3 meter saat latihan SRT. Sedikit flashback, saya benar-benar menjadi waspada jika praktek SRT semenjak kejadian jatuh itu. Padahal bukan kali pertamanya saya mencoba SRT. Mempraktekkan SRT 2 kali ketika hari minggu, lancar-lancar saja dan tidak ada masalah. Entahlah hari kedua mencoba SRT lagi seperti tidak ada koordinasi antara otak, kanan kiri, dan tangan kanan. Lucu juga bila saya ingat-ingat kejadiannya lagi. Ketika sudah mendarat di tanah, saya sangat kaget lalu panik karena otomatis saya menjatuhkan alat. ‘Apa respon para instruktur? pasti marah besar’, itu yang ada dipikiran saya. Tetapi saya juga berpikir, tidak hanya alat yang saya jatuhkan tapi nyawa diri saya juga. Berbahaya sekali. Dengan wajah syok saya masih bisa cengar cengir datar. Serempak semua orang terutama instruktur menghampiri saya. Saya yakin mereka pasti akan marah, tapi ternyata tidak. Mereka hanya bertanya mengapa bisa saya jatuh dan menyuruh saya istirahat menenangkan diri. Namun saya langsung bilang kepada Ka Rahman bahwa saya ingin mencoba lagi. Saya ingin membuktikkan saya pasti bisa dan tidak akan ada kesalahan lagi. Sambil melepas dan merapikan alat, saya masih mengontrol rasa kaget dan panik sampai-sampai tangan dan kaki serasa gemetaran. Kemudian saya duduk istirahat, sesekali teman-teman bertanya alasan saya jatuh. Saya menjelaskan sambil senyum-senyum berpikir betapa bodohnya tindakan saya itu. Padahal materi SRT yang disampaikan oleh Ka Bregas bisa saya pahami semua. Sedang duduk saya instropeksi diri, tiba-tiba ka Bregas datang menghampiri. Spontan dipikiran saya, pasti akan dimarahi. Saya juga merasa tidak enak sekali dengan ka Bregas karena salah mempraktekkan SRT. Menurut saya, ka Bregas sudah cukup jelas menyampaikan materi caving dan SRT saat materi kelas. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Dengan wajah pasrah melihat ka Bregas datang, saya siapkan saja jawaban-jawaban jika ia bertanya atau marah. Ternyata ka Bregas hanya bertanya apa saya cidera, apa kepala saya pusing/sakit, dan menyuruh saya mengecek ada yang luka atau tidak. Syukurlah, dipikiran saya sudah kemana-mana saja. Ka Rahman juga menyarankan agar saya periksa ke dokter atau di urut. Untunglah yang sakit hanya di bagian ‘pantat’ kiri saja. Badan saya tidak terlalu sakit karena saya jatuh tidak langsung ke tanah tapi mendarat diatas tumpukan tali kernmantel. Tepat sekali. Setelah cukup istirahat, saya mencoba SRT lagi. Dan kali ini berhasil dan lancar, tapi perasaan tegang saya yang luar biasa ketika descending apalagi memegang autostop. Pengalaman yang tidak akan dilupa dan harus menjadi kesalahan yang terakhir. Kembali ke persiapan try out di hari Kamis, ada momen yang menarik juga. Ketika kami semua sedang mulai berdoa mengakhiri latihan hari itu, tba-tiba ka Rahman datang membawa ember isi air dan menyiramnya kearah saya. Ya karena hari itu tepat hari ulang tahun saya yang ke 19. Saya pun menjadi basah. Saya tidak tau air apa itu tapi seperti air cucian atau air sabun dari baunya. Walau basah namun terima kasih untuk ka Rahman, jarang-jarang saya mendapat kejutan siraman di hari ulang tahun. Malam itu setelah latihan SRT, saya dan saudara-saudara lainnya ‘nongkrong’ bareng di Kemayoran di warung jus, referensi dari Mila dan Ferry. Kemudian pindah ke rumah Fadli masih di daerah Kemayoran juga. Kami pulang dari sana cukup malam jam 10. Sudah pasti orang tua saya protes karena sampai rumah saya jam 11. Tapi biarlah ini baru pertama kali saya pulang malam sekali semenjak lulus SMA. Awal yang menyenangkan merayakan ulang tahun bersama Eka Citra. Calon keluarga berikutnya.
Hanya dua hari satu malam try out caving dilaksanakan. Siswa yang ikut hanya 16 orang. Dengan biaya 35ribu, kami menggunakan bus UNJ pulang pergi. Lokasi try out berada di kawasan karst, Tajur, Bogor. Sesampainya disana kami langsung berjalan memasuki desa Leuwi Karet. Suasana sepanjang perjalanan dari ketika naik bus hingga di desa ramai dengan persiapan perayaan malam tahun baru 2011. Suara terompet terdengar dimana-mana. Perjalanan menuju lokasi Goa Cikaray tidak terlalu lama tapi saya sangat tidak nyaman dan cepat lelah karena sepatu PDL saya yang sedikit bermasalah sehingga tumit saya lecet padahal baru sekitar 15 menit berjalan. Sampai di lapangan SMP tempat basecamp kami. Instruktur langsung menginstruksikan kami untuk makan malam. Sebelum berangkat, kami memang sengaja membeli nasi dahulu di kampus. Makan malam selesai, kami lalu melaksanakan upacara pembukaan lanjut dengan pemilihan danru. Muthia dipilih untuk menjadi danru. Kostum untuk caving telah dipakai dan kami semua dibagi menjadi dua kelompok. Saya di kelompok pertama mendapat giliran menelusuri goa horisontal dan kelompok kedua membuat bivak. Sebelumnya kami mendapat arahan teori gerakan-gerakan menelusuri goa horisontal oleh ka Bregas. Entah mungkin sekitar jam 9 malam kelompok saya masuk goa. Luar biasa dan menakjubkan ketika sudah berada didalam goa. Meskipun bau Goano, kotor, basah, dan berlumpur, tapi goa memiliki keunikan-keunikan yang membuat saya dan saudara-saudara lainnya ‘bengong’ dan kagum. Ka Bregas selaku instruktur memimpin penelusuran goa saat itu, ia memberi tahu dan menunjukkan kepada kami macam-macam ornamen. Kami bisa menyebutkan ornamen sesuai dengan yang sudah dipelajari di buku diktat dan pengulangan materi berkali-kali di kampus oleh Ka Bregas yang sudah ‘mengelotok’ di otak kami. Kami melihat stalaktit, stalakmit, canovi, drapery, sodastraw, coloumn, gordyn, pearls, goursdam, courtain, dan flowstone. Cantik sekali ornamen-ornamen goa. Berulang kali saya mengucapkan subhanallah karena kagumnya. ‘Ini baru satu goa, bagaimana dengan goa lainnya, pasti jauh lebih menakjubkan’, pikirku. Dan di goa benar-benar gelap abadi, kami membuktikannya dengan mematikan semua senter dan sumber cahaya lainnya yang kami bawa. Oleh karena itu, penting sekali untuk membawa penerangan dengan perlengkapan cadangannya. Tidak terasa waktu kami habis menelusuri goa, waktunya bergantian dengan kelompok dua. Kelompok saya giliran membuat bivak. Lokasi membuat bivak terdapat banyak pohon, jadi mudah untuk mendirikan bivak tetapi tanahnya keras dan banyak batu karena ini di kawasan karst. Ciri-cirinya memang banyak batu daripada tanah, suhunya pun tidak dingin meskipun malam. Cukup sulit bagi saya saat memasang pasak dan membuat parit karena kondisi tanah yang banyak batunya. Try out ini memang lebih santai terbukti ketika membuat bivak kami tidak dihitung waktu. Bivak telah selesai dibuat, kami berkumpul dilapangan SMP dengan kelompok dua dengan snack/makanan dan minuman yang kami pegang masing-masing. Kami dan instruktur membuat lingkaran di lapangan. Duduk sambil makan snack dan melihat pemandangan di langit yang penuh dengan kembang api. Saya pun menyuguhkan kue bolu coklat dan keju kepada instruktur dan saudara xxx yang memang sudah saya persiapkan untuk menyambut pergantian tahun. Sebagai simbol juga karena kemarin saya ulang tahun. Ingin memberi kesan yang berbeda di try out kali ini. Kami bersenang-senang malam itu, games, bernyanyi, make a wish dari beberapa saudara xxx, dan menyalakan kembang api yang disediakan instruktur. ‘Selamat tahun baru!’.
Setelah bersenang-senang di detik-detik pergantian tahun baru dan menyaksikan indahnya bukit-bukit yang diterangi oleh kembang api, kami melanjutkan kegiatan berikutnya. Awalnya saya kira waktunya tidur di bivak, saya sudah lelah menahan kaki yang sakit karena lecet dan ingin cepat-cepat istirahat tapi ternyata kami semua beserta beberapa instruktur masuk ke goa lagi. Di dalam goa di ruang luas seperti chamber kami berkumpul. Sambil duduk, instruktur mulai bercerita. Ini merupakan refleksi diri. Suasana yang teduh dan sunyi dengan kata-kata yang diucapkan ka Mando, kami termotivasi dan disadarkan kembali dengan visi menjadi anggota Eka Citra. Ka Mando berpesan agar kami menjaga dan meningkatkan rasa semangat untuk mengikuti aplikasi akhir dan setelahnya menjadi anggota. Suasana semakin khidmat ketika ketiga wadan; ka Rahman, ka Febry, dan ka Haris bercerita tentang pengalaman mereka ketika menjadi siswa. Ka Mando, ka Rahman, dan lainnya mengajak kami menyalakan lilin-lilin yang disusun membentuk xxx yang sudah mereka siapkan. Kami satu persatu maju menyalakan lilin xxx dari lilin kami yang sudah menyala. Waktu terus berjalan, kami sudah mulai merasa ngantuk. Saya pun juga mulai mengantuk dan semakin lelah menahan kaki yang lecetnya semakin lebar dan perih terkena air di goa. Namun saya tetap fokus karena disini pikiran saya seperti dibuka kembali tentang tujuan mengikuti kodiklatsar xxx. Sampai pada akhirnya diantara kami menangis. Saya dan Andra yang duduk di kanan saya termasuk yang tidak bisa menahan haru dan menangis apalagi bila teringat tentang orang tua kami. Masih dengan ka Mando yang berbicara di tengah-tengah kami, mengajak kami untuk menyampaikan dan menyalurkan rasa semangat kepada saudara-saudara xxx. Dimulai dengan Ali yang berani menyampaikan apa yang ia rasakan, lalu Slamet, dan kemudian saya memberanikan diri berbicara berbagi semangat. Di otak saya sudah penuh dengan pikiran-pikiran dan perasaan yang ingin sekali saya luapkan kepada semua orang yang ada pada saat itu. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita harus mencoba untuk totalitas dalam mengikuti kodiklatsar xxx. Memang butuh pengorbanan, tapi bukankah ini yang kita pilih? Tidak ada yang memaksa kita untuk menjadi anggota Eka Citra bukan?. Semua atas dasar kesadaran dan kemauan diri sendiri. Saya mulai berbicara sampai ke titik dimana saya menangis dan berhenti bicara. Meski begitu saya coba tetap tenang dan melanjutkan bicara. Mungkin beberapa ada yang berpikir tentang saya seperti ‘ida enak ya rajin latihan dan materi, absen full’ atau ‘ida bisa ya selalu dateng latihan EC, selalu ada waktu. Emang nggak ada kesibukan lain apa ya?’ atau komentar lainnya. Sungguh untuk bisa mencapai predikat ‘rajin’ itu butuh pengorbanan dan tidak mudah. Dibalik ‘rajin’ itu saya mengorbankan banyak hal. Waktu belajar dan mengerjakan tugas yang menjadi berkurang, waktu istirahat pun pasti berkurang untuk mengejar deadline tugas, yang berakibat kurang tidur, tidur di jam kuliah, kecelakaan di jalan raya akibat mengendarai motor sambil ngantuk dan jam kuliah pagi terus. Ada pula saya banyak melewatkan waktu bersama teman-teman sejurusan. Jika mereka janjian main atau makan bareng sepulang kuliah atau weekend, maka saya justru harus berkeringat ‘ngos-ngosan’ mengelilingi kampus lebih dari lima putaran dan pulang selalu malam dengan badan yang pegal-pegal. Setiap weekend datang materi kelas, itu pun saya banyak menolak ajakan teman-teman yang mengajak jalan dan main. Berkali-kali menolak ajakan untuk shopping/belanja ke mall dari kakak saya. Yang lebih sedih ketika saya menolak ajakan bertemu dan hangout dari sahabat-sahabat lama saya yang sudah lama tidak bertemu. Ketika harus memilih memang berat, tapi saya tidak menyesal karena kita memang harus konsisten dengan apa yang sudah kita niatkan lebih dulu tentang sebuah komitmen dan tanggung jawab. Pengorbanan ini seperti sudah mendarah daging sejak saya SMA. Pengalaman-pengalaman dan perasaan tiga tahun yang lalu seperti diputar kembali di kepala saya. Kalimat-kalimat yang nyaris sama terdengar dan diucap kembali. Tekanan-tekanan mental saat dulu teringat lagi. Suka duka dan semua yang pernah saya alami muncul kembali jadi satu kesatuan di kepala saya menaikkan emosi dan detak jantung hingga saya tidak kuat lagi dan menangis. Bukan proses yang sudah memasuki bulan ketiga kodiklatsar yang membuat saya menangis, tetapi bagaimana proses yang sudah kurang lebih empat tahun saya rasakan hingga saya bisa berada di goa saat itu bersama Eka Citra. Mungkin terlihat berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan karena untuk menjadi seorang ‘Pecinta Alam’ sangatlah berat prosesnya dan untuk menjaga nama ‘Pecinta Alam’ itu sendiri tidaklah mudah. Dibalik itu semua juga karena saya merasa kurang dalam kualitas. Kurang kuat, kurang pintar, kurang terampil karena itu saya ingin memperkaya diri dengan cara selalu mengikuti program yang sudah dirancang.
Tahun baru di goa. Ini kali pertamanya saya merasakan tahun baru di goa. Ka Mando bercerita tentang orang tua. Saya teringat dan menyadari, empat tahun terakhir ini terhitung tahun 2011 hanya sekali saya merayakan tahun baru dan ulang tahun bersama orang tua di rumah. Ya merayakan tahun 2010 saya bersama keluarga. Sedang dua tahun sebelumnya berturut-turut saya merayakan ulang tahun dan tahun baru bersama dengan sispala di Gunung Gede. Tidak pernah saya mendapat kado ulang tahun selama empat tahun ini. Bagiku kebersamaan dan keberhasilan membawa rombongan ke puncak dan turun kembali dengan selamat serta kembali ke rumah dengan senyuman puas kepada orang tua adalah kado terindah selama saya hidup sampai detik ini. Saya sedih dan terharu melihat orang tua saya yang sabar ditinggal pergi anak-anaknya di momen dimana orang lain/tetangga berkumpul sekeluarga merayakan tahun baru dengan acara RT setempat. Saya beruntung memiliki orang tua seperti orang tua saya ini. Mereka mendukung kegiatan saya juga membantu dalam hal materi. Saya selalu bercerita pada ibu bahwa try out butuh ini dan itu dan ketika saya bingung belum mendapat perlengkapan try out, ibu saya dengan semangat membantu berpikir dan mencarikan. Padahal saya tidak minta tolong padanya. Orang tua saya pun tidak sulit mengeluarkan uang untuk membeli perlengkapan yang sekiranya vital dan dipakai jangka lama. Padahal masih bisa makan daging ayam dan sapi saja keluarga saya sudah sangat bersyukur. Semenjak bapak di PHK tepat saat saya lulus SMP, keluarga saya menjadi sangat selektif mengeluarkan uang dan hemat besar-besaran. Saya menangis jika ingat bagaimana bapak mencari nafkah kemudian. Berbagai usaha dicoba sampai berdagang barang loak juga dilakukan. Teringat saya menemani jualan baju di pinggir jalan panas-panas sampai kehujanan, diusir dan tidak mendapat lapak. Sangat memprihatinkan, maka itu saya terharu sekali bila orang tua saya dengan pedulinya membelikan perlengkapan kegiatan outdoor saya. Namun saya belum bisa membalas dan membuat mereka bangga. Saya terus menabung dan tidak jajan di kampus, selalu tiap hari membawa bekal makanan dari rumah dan lumayan hasilnya bisa untuk membayar ongkos try out dari pertama hingga terakhir. Bagi saya, malam tahun baru itu benar-benar menjadi refleksi dan evaluasi diri. Doa bersama kami panjatkan dipimpin oleh ka Rahman dan lilin xxx pun kami tiup bersama tanda kegiatan tersebut selesai. Kami keluar goa dan menuju bivak untuk istirahat. Entah tumben sekali saya susah tidur pagi itu padahal udara terasa hangat tidak dingin sama sekali bivak pun nyaman dan ada peningkatan dari kami dalam membuat bivak, kata ka Haris. Sepertinya belum ada satu jam saya tidur, instruktur sudah datang membangunkan saya. Seperti biasa memeriksa nadi. Kemudian kami shalat subuh dan packing. Sedikit ribut saat itu karena gerakan kami yang lambat. Sehingga kena hukuman push up. Lanjut dengan olahraga pagi. Sedikit menyiksa kaki saya olahraga ini, meski sudah diperban tetap saja sakit. Saya tidak bisa berlari, untuk jalan saja pincang. Padahal sepatu PDL yang dipakai masih sama dan cara pakainya pun sama. Try out pertama dan kedua kaki saya sehat, mulus, malah tidak lecet. Tapi try out ini yang berjalan hanya sebentar malah lecet lebih parah. Membuat mood saya menjadi tidak nyaman. Setelah olahraga kami turun ke bawah mengambil air untuk masak. Kami mengambil air di sumur milik penduduk. Kemudian kami makan pagi. Lahap dan cepat habis makanan saya karena menu daging ayam dan kentang goreng yang saya suka. Membuat saudara-saudara sebelah saya melirik ingin mencicipi. Andai saja instruktur tidak protes, saya sudah membaginya kepada mereka. Setelah makan pagi kami berkumpul di lapangan. Disini saya benar-benar merasa tidak nyaman, masih gara-gara kaki yang lecet. Kalau kaki sudah tidak beres, mood saya langsung buruk. Dengan wajah lesu saya berdiri. Ternyata tidak hanya saya yang lesu tetapi hampir semua siswa xxx juga, sampai-sampai ka Haris komentar dan menegur kami apa kurang tidur atau kurang makan. Pada dasarnya kami masih semangat. Pergantian dan pemilihan danru. Untuk try out ini instruktur ingin danrunya perempuan lagi, alhasil Andra dengan percaya diri maju sebagai danru. ‘Andra hebat’, pikirku. Kemudian kami apel pagi sebelum berkegiatan lagi. Kali ini ada tiga materi yang diaplikasikan maka kami dibagi menjadi tiga kelompok. Saya, Andra, Slamet, Rully, dan Rita tergabung dalam kelompok dua. Kelompok saya mempraktekkan teknik goa horisontal. Penelusuran goa horisontal dipimpin oleh ka Adit dan ditemani oleh ka Syanusi dan ka Sari. Kami memasuki goa yang sama dengan yang semalam, bedanya kali ini kami menerapkan teknik gerakan-gerakannya seperti merangkak (crawling), merayap (squeeze), terlentang, dan duck walking. Cukup lama kami disini sehingga semua dapat kesempatan mempraktekkan gerakan-gerakan tersebut sampai badan kami basah total karena merayap di lorong yang dipenuhi air. Kami semua antusias untuk mencoba lorong-lorong. Tapi sayang tidak semua lorong dapat kami telusuri karena jaraknya ada yang panjang. Walau gelap abadi, sesekali kami menemukan aven (cahaya dari luar goa). Habis waktu kami mempraktekkan teknik gerakan goa horisontal, selanjutnya kelompok saya melakukan sosiologi pedesaan. Didampingi oleh ka Nona dan ka Rita, kami menuju rumah Pak RW sebagai narasumber. Dengan point-point indikator yang telah ditentukan, kami mewawancarai Pak RW. Setelah dirasa cukup, kami pamit dan kembali ke basecamp. Kami mengulas kembali data dan informasi yang didapat kepada instruktur sambil beristirahat makan snack dan minum. Waktu seperti menunjukkan sudah tengah hari. Kami dikondisikan untuk makan siang dan shalat. Kami masak dan makan perkelompok. Ada yang berbeda makan kali ini. Kami diberikan daging ayam oleh instruktur. Setelah membagikan ayam ke masing-masing kelompok, saya mulai memasak. Kelompok saya memasak cukup banyak dan kami dengan cepat dapat menghabiskan makanan karena memang sangat lapar. Packing alat masak dan logistik selesai. Kini giliran kelompok saya mempraktekkan SRT di goa vertikal. Ini merupakan materi terakhir. Sepanjang perjalanan menuju goa, saya terus membayangkan autostop. Saya tempel di otak baik-baik cara menggunakan autostop agar kesalahan di kampus tidak terulang lagi. Kami sampai di lokasi. Sadar atau tidak para instruktur, wajah kami semua tegang sampai di lokasi. Apalagi kalau bukan karena instruktur-instruktur disini seperti ka Bregas, ka Mando, ka Doni, ka Haris, ka Rahman yang menuntut kami untuk benar-benar serius fokus. Langkah pertama kami membuat sit harness dari webbing. Ternyata ketegangan kami sedikit berkurang, praktek SRT ini benar-benar santai dan tidak ada instruktur yang marah-marah atau bicara galak pun tidak. Sampai pada giliran saya SRT, pertama kalinya saya bisa senyum tertawa saat laporan kepada ka Haris, instruktur saat itu. Sebenarnya karena ka Haris duluan yang senyum-senyum karena saya salah laporan, saya pun jadi ikut tertawa dan dengan kompaknya instruktur lainnya memarahi saya. Peralatan SRT sudah lengkap dan terpasang, saya mulai turun menggunakan autostop. Inilah dengan sangat pelan dan benar-benar pelan saya menekan tuas autostop karena memang masih trauma sehingga agak lama saya turun. Apalagi saya yang juga ragu-ragu melakukan tolakan kaki ke dinding goa. Sehingga dikritik oleh instruktur karena saya lama dan banyak tanya. Tapi lebih baik banyak tanya saat try out dari pada nanti aplikasi akhir, bukan. Descending saya lancar dan tidak ada masalah, ascending pun juga lancar hanya lagi-lagi lama ketika harus menolak dinding dengan kaki. Sedikit salah paham dan buru-buru, akhirnya saya sanksi dua seri. Menginjak kernmantel dan tidak memasang cowstail pendek sesampainya diatas. Sambil menunggu saudara yang lain praktek SRT, saya, Slamet, dan Andra diberi pertanyaan oleh instruktur. Sungguh diluar perkiraan kami. Kami kira disini materi yang paling menegangkan tapi ternyata justru paling menyenangkan. Kami tidak berhenti tertawa mendengar obrolan dan ‘celetukan’ instruktur dan Slamet. Slamet menjadi bahan tertawa saat itu. Ada-ada saja ulah instruktur. Tidak hanya kami, semua instruktur juga tertawa terbahak-bahak dengan jawaban-jawaban Slamet. Tidak pernah saya melihat wajah-wajah dari ka Mando, ka Doni, dan ka Haris ‘sekocak’ seperti ini. Beruntung sekali kelompok saya terakhir materi SRT. Jarang-jarang bisa tertawa-tertawa bersama instruktur seperti ini. Ditambah lagi dengan ulah Rita yang makin membuat suasana lebih ‘encer’ dan lucu. Tapi tidak untuk Rita sendiri dan ka Bregas. Karena ternyata Rita membuat naik pitam ka Bregas. Hanya Rita yang menghabiskan waktu paling lama yaitu sejam untuk praktek SRT. Hari sudah sore, kami pun selesai SRT dan kembali berkumpul dengan yang lain di lapangan. Di lapangan kami mengulas kembali kegiatan yang telah dilakukan dan kesan-kesan setelah menelusuri goa.
Semua packing untuk bersiap-siap kembali ke kampus. Setelah upacara penutupan, kami berpoto-poto bersama. Kemudian kami pulang dengan menggunakan bus UNJ. Sampai di kampus hari masih sore sekitar jam 8 malam. Serunya lagi, kami para siswa masih betah di kampus sampai sejam setelah sampai. Saking laparnya, kami mengeluarkan semua logistik dan masak di kampus. Try out yang paling menyenangkan. Danrunya saja edisi khusus perempuan dan semua bisa senyum-senyum senang. Sayang sekali bagi mereka yang tidak ikut. Dari mulai jatuh latihan SRT, ulang tahun disiram air, kembang api, nangis di goa, tertawa dengan instruktur, dan pengalaman lainnya bagiku yang sangat berkesan menutup tahun 2010 dan membuka tahun 2011.
KODIKLATSAR XXX KMPA EKA CITRA UNJ
Try out caving merupakan try out terakhir dalam rangkaian kodiklatsar xxx. Try out kali ini bisa dibilang try out spesial dan yang paling santai dibanding try out sebelumnya. Tepat dengan momen malam pergantian tahun baru, itulah yang membuat suasana berbeda dan spesial. Sesuai seperti yang sudah dijanjikan oleh Ka Haris selaku wadan kodiklatsar ini bahwa ‘try out caving kita akan have fun dan senang-senang’. Dan itu terbukti setelah saya mengikuti try out caving pada 31 Des 2010-1 Jan 2011. Dengan persiapan yang sama sejak hari Kamis, saya ceklist perlengkapan. Perlengkapan yang berbeda adalah membawa wearpack, helm, dan headlamp yang merupakan perlengkapan wajib caving. Selain ceklist perlengkapan, instruktur juga memberi pendalaman praktek SRT (single rope technic). Kami diharapkan untuk lancar praktek SRT karena akan diaplikasikan di try out dan aplikasi akhir nanti. Saya pun rajin setiap hari 3 kali berturut-turut datang pendalaman praktek SRT ini supaya bertambah lancar sekaligus menghilangkan trauma saya yang pernah jatuh dari ketinggian entah 2 atau 3 meter saat latihan SRT. Sedikit flashback, saya benar-benar menjadi waspada jika praktek SRT semenjak kejadian jatuh itu. Padahal bukan kali pertamanya saya mencoba SRT. Mempraktekkan SRT 2 kali ketika hari minggu, lancar-lancar saja dan tidak ada masalah. Entahlah hari kedua mencoba SRT lagi seperti tidak ada koordinasi antara otak, kanan kiri, dan tangan kanan. Lucu juga bila saya ingat-ingat kejadiannya lagi. Ketika sudah mendarat di tanah, saya sangat kaget lalu panik karena otomatis saya menjatuhkan alat. ‘Apa respon para instruktur? pasti marah besar’, itu yang ada dipikiran saya. Tetapi saya juga berpikir, tidak hanya alat yang saya jatuhkan tapi nyawa diri saya juga. Berbahaya sekali. Dengan wajah syok saya masih bisa cengar cengir datar. Serempak semua orang terutama instruktur menghampiri saya. Saya yakin mereka pasti akan marah, tapi ternyata tidak. Mereka hanya bertanya mengapa bisa saya jatuh dan menyuruh saya istirahat menenangkan diri. Namun saya langsung bilang kepada Ka Rahman bahwa saya ingin mencoba lagi. Saya ingin membuktikkan saya pasti bisa dan tidak akan ada kesalahan lagi. Sambil melepas dan merapikan alat, saya masih mengontrol rasa kaget dan panik sampai-sampai tangan dan kaki serasa gemetaran. Kemudian saya duduk istirahat, sesekali teman-teman bertanya alasan saya jatuh. Saya menjelaskan sambil senyum-senyum berpikir betapa bodohnya tindakan saya itu. Padahal materi SRT yang disampaikan oleh Ka Bregas bisa saya pahami semua. Sedang duduk saya instropeksi diri, tiba-tiba ka Bregas datang menghampiri. Spontan dipikiran saya, pasti akan dimarahi. Saya juga merasa tidak enak sekali dengan ka Bregas karena salah mempraktekkan SRT. Menurut saya, ka Bregas sudah cukup jelas menyampaikan materi caving dan SRT saat materi kelas. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Dengan wajah pasrah melihat ka Bregas datang, saya siapkan saja jawaban-jawaban jika ia bertanya atau marah. Ternyata ka Bregas hanya bertanya apa saya cidera, apa kepala saya pusing/sakit, dan menyuruh saya mengecek ada yang luka atau tidak. Syukurlah, dipikiran saya sudah kemana-mana saja. Ka Rahman juga menyarankan agar saya periksa ke dokter atau di urut. Untunglah yang sakit hanya di bagian ‘pantat’ kiri saja. Badan saya tidak terlalu sakit karena saya jatuh tidak langsung ke tanah tapi mendarat diatas tumpukan tali kernmantel. Tepat sekali. Setelah cukup istirahat, saya mencoba SRT lagi. Dan kali ini berhasil dan lancar, tapi perasaan tegang saya yang luar biasa ketika descending apalagi memegang autostop. Pengalaman yang tidak akan dilupa dan harus menjadi kesalahan yang terakhir. Kembali ke persiapan try out di hari Kamis, ada momen yang menarik juga. Ketika kami semua sedang mulai berdoa mengakhiri latihan hari itu, tba-tiba ka Rahman datang membawa ember isi air dan menyiramnya kearah saya. Ya karena hari itu tepat hari ulang tahun saya yang ke 19. Saya pun menjadi basah. Saya tidak tau air apa itu tapi seperti air cucian atau air sabun dari baunya. Walau basah namun terima kasih untuk ka Rahman, jarang-jarang saya mendapat kejutan siraman di hari ulang tahun. Malam itu setelah latihan SRT, saya dan saudara-saudara lainnya ‘nongkrong’ bareng di Kemayoran di warung jus, referensi dari Mila dan Ferry. Kemudian pindah ke rumah Fadli masih di daerah Kemayoran juga. Kami pulang dari sana cukup malam jam 10. Sudah pasti orang tua saya protes karena sampai rumah saya jam 11. Tapi biarlah ini baru pertama kali saya pulang malam sekali semenjak lulus SMA. Awal yang menyenangkan merayakan ulang tahun bersama Eka Citra. Calon keluarga berikutnya.
Hanya dua hari satu malam try out caving dilaksanakan. Siswa yang ikut hanya 16 orang. Dengan biaya 35ribu, kami menggunakan bus UNJ pulang pergi. Lokasi try out berada di kawasan karst, Tajur, Bogor. Sesampainya disana kami langsung berjalan memasuki desa Leuwi Karet. Suasana sepanjang perjalanan dari ketika naik bus hingga di desa ramai dengan persiapan perayaan malam tahun baru 2011. Suara terompet terdengar dimana-mana. Perjalanan menuju lokasi Goa Cikaray tidak terlalu lama tapi saya sangat tidak nyaman dan cepat lelah karena sepatu PDL saya yang sedikit bermasalah sehingga tumit saya lecet padahal baru sekitar 15 menit berjalan. Sampai di lapangan SMP tempat basecamp kami. Instruktur langsung menginstruksikan kami untuk makan malam. Sebelum berangkat, kami memang sengaja membeli nasi dahulu di kampus. Makan malam selesai, kami lalu melaksanakan upacara pembukaan lanjut dengan pemilihan danru. Muthia dipilih untuk menjadi danru. Kostum untuk caving telah dipakai dan kami semua dibagi menjadi dua kelompok. Saya di kelompok pertama mendapat giliran menelusuri goa horisontal dan kelompok kedua membuat bivak. Sebelumnya kami mendapat arahan teori gerakan-gerakan menelusuri goa horisontal oleh ka Bregas. Entah mungkin sekitar jam 9 malam kelompok saya masuk goa. Luar biasa dan menakjubkan ketika sudah berada didalam goa. Meskipun bau Goano, kotor, basah, dan berlumpur, tapi goa memiliki keunikan-keunikan yang membuat saya dan saudara-saudara lainnya ‘bengong’ dan kagum. Ka Bregas selaku instruktur memimpin penelusuran goa saat itu, ia memberi tahu dan menunjukkan kepada kami macam-macam ornamen. Kami bisa menyebutkan ornamen sesuai dengan yang sudah dipelajari di buku diktat dan pengulangan materi berkali-kali di kampus oleh Ka Bregas yang sudah ‘mengelotok’ di otak kami. Kami melihat stalaktit, stalakmit, canovi, drapery, sodastraw, coloumn, gordyn, pearls, goursdam, courtain, dan flowstone. Cantik sekali ornamen-ornamen goa. Berulang kali saya mengucapkan subhanallah karena kagumnya. ‘Ini baru satu goa, bagaimana dengan goa lainnya, pasti jauh lebih menakjubkan’, pikirku. Dan di goa benar-benar gelap abadi, kami membuktikannya dengan mematikan semua senter dan sumber cahaya lainnya yang kami bawa. Oleh karena itu, penting sekali untuk membawa penerangan dengan perlengkapan cadangannya. Tidak terasa waktu kami habis menelusuri goa, waktunya bergantian dengan kelompok dua. Kelompok saya giliran membuat bivak. Lokasi membuat bivak terdapat banyak pohon, jadi mudah untuk mendirikan bivak tetapi tanahnya keras dan banyak batu karena ini di kawasan karst. Ciri-cirinya memang banyak batu daripada tanah, suhunya pun tidak dingin meskipun malam. Cukup sulit bagi saya saat memasang pasak dan membuat parit karena kondisi tanah yang banyak batunya. Try out ini memang lebih santai terbukti ketika membuat bivak kami tidak dihitung waktu. Bivak telah selesai dibuat, kami berkumpul dilapangan SMP dengan kelompok dua dengan snack/makanan dan minuman yang kami pegang masing-masing. Kami dan instruktur membuat lingkaran di lapangan. Duduk sambil makan snack dan melihat pemandangan di langit yang penuh dengan kembang api. Saya pun menyuguhkan kue bolu coklat dan keju kepada instruktur dan saudara xxx yang memang sudah saya persiapkan untuk menyambut pergantian tahun. Sebagai simbol juga karena kemarin saya ulang tahun. Ingin memberi kesan yang berbeda di try out kali ini. Kami bersenang-senang malam itu, games, bernyanyi, make a wish dari beberapa saudara xxx, dan menyalakan kembang api yang disediakan instruktur. ‘Selamat tahun baru!’.
Setelah bersenang-senang di detik-detik pergantian tahun baru dan menyaksikan indahnya bukit-bukit yang diterangi oleh kembang api, kami melanjutkan kegiatan berikutnya. Awalnya saya kira waktunya tidur di bivak, saya sudah lelah menahan kaki yang sakit karena lecet dan ingin cepat-cepat istirahat tapi ternyata kami semua beserta beberapa instruktur masuk ke goa lagi. Di dalam goa di ruang luas seperti chamber kami berkumpul. Sambil duduk, instruktur mulai bercerita. Ini merupakan refleksi diri. Suasana yang teduh dan sunyi dengan kata-kata yang diucapkan ka Mando, kami termotivasi dan disadarkan kembali dengan visi menjadi anggota Eka Citra. Ka Mando berpesan agar kami menjaga dan meningkatkan rasa semangat untuk mengikuti aplikasi akhir dan setelahnya menjadi anggota. Suasana semakin khidmat ketika ketiga wadan; ka Rahman, ka Febry, dan ka Haris bercerita tentang pengalaman mereka ketika menjadi siswa. Ka Mando, ka Rahman, dan lainnya mengajak kami menyalakan lilin-lilin yang disusun membentuk xxx yang sudah mereka siapkan. Kami satu persatu maju menyalakan lilin xxx dari lilin kami yang sudah menyala. Waktu terus berjalan, kami sudah mulai merasa ngantuk. Saya pun juga mulai mengantuk dan semakin lelah menahan kaki yang lecetnya semakin lebar dan perih terkena air di goa. Namun saya tetap fokus karena disini pikiran saya seperti dibuka kembali tentang tujuan mengikuti kodiklatsar xxx. Sampai pada akhirnya diantara kami menangis. Saya dan Andra yang duduk di kanan saya termasuk yang tidak bisa menahan haru dan menangis apalagi bila teringat tentang orang tua kami. Masih dengan ka Mando yang berbicara di tengah-tengah kami, mengajak kami untuk menyampaikan dan menyalurkan rasa semangat kepada saudara-saudara xxx. Dimulai dengan Ali yang berani menyampaikan apa yang ia rasakan, lalu Slamet, dan kemudian saya memberanikan diri berbicara berbagi semangat. Di otak saya sudah penuh dengan pikiran-pikiran dan perasaan yang ingin sekali saya luapkan kepada semua orang yang ada pada saat itu. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita harus mencoba untuk totalitas dalam mengikuti kodiklatsar xxx. Memang butuh pengorbanan, tapi bukankah ini yang kita pilih? Tidak ada yang memaksa kita untuk menjadi anggota Eka Citra bukan?. Semua atas dasar kesadaran dan kemauan diri sendiri. Saya mulai berbicara sampai ke titik dimana saya menangis dan berhenti bicara. Meski begitu saya coba tetap tenang dan melanjutkan bicara. Mungkin beberapa ada yang berpikir tentang saya seperti ‘ida enak ya rajin latihan dan materi, absen full’ atau ‘ida bisa ya selalu dateng latihan EC, selalu ada waktu. Emang nggak ada kesibukan lain apa ya?’ atau komentar lainnya. Sungguh untuk bisa mencapai predikat ‘rajin’ itu butuh pengorbanan dan tidak mudah. Dibalik ‘rajin’ itu saya mengorbankan banyak hal. Waktu belajar dan mengerjakan tugas yang menjadi berkurang, waktu istirahat pun pasti berkurang untuk mengejar deadline tugas, yang berakibat kurang tidur, tidur di jam kuliah, kecelakaan di jalan raya akibat mengendarai motor sambil ngantuk dan jam kuliah pagi terus. Ada pula saya banyak melewatkan waktu bersama teman-teman sejurusan. Jika mereka janjian main atau makan bareng sepulang kuliah atau weekend, maka saya justru harus berkeringat ‘ngos-ngosan’ mengelilingi kampus lebih dari lima putaran dan pulang selalu malam dengan badan yang pegal-pegal. Setiap weekend datang materi kelas, itu pun saya banyak menolak ajakan teman-teman yang mengajak jalan dan main. Berkali-kali menolak ajakan untuk shopping/belanja ke mall dari kakak saya. Yang lebih sedih ketika saya menolak ajakan bertemu dan hangout dari sahabat-sahabat lama saya yang sudah lama tidak bertemu. Ketika harus memilih memang berat, tapi saya tidak menyesal karena kita memang harus konsisten dengan apa yang sudah kita niatkan lebih dulu tentang sebuah komitmen dan tanggung jawab. Pengorbanan ini seperti sudah mendarah daging sejak saya SMA. Pengalaman-pengalaman dan perasaan tiga tahun yang lalu seperti diputar kembali di kepala saya. Kalimat-kalimat yang nyaris sama terdengar dan diucap kembali. Tekanan-tekanan mental saat dulu teringat lagi. Suka duka dan semua yang pernah saya alami muncul kembali jadi satu kesatuan di kepala saya menaikkan emosi dan detak jantung hingga saya tidak kuat lagi dan menangis. Bukan proses yang sudah memasuki bulan ketiga kodiklatsar yang membuat saya menangis, tetapi bagaimana proses yang sudah kurang lebih empat tahun saya rasakan hingga saya bisa berada di goa saat itu bersama Eka Citra. Mungkin terlihat berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan karena untuk menjadi seorang ‘Pecinta Alam’ sangatlah berat prosesnya dan untuk menjaga nama ‘Pecinta Alam’ itu sendiri tidaklah mudah. Dibalik itu semua juga karena saya merasa kurang dalam kualitas. Kurang kuat, kurang pintar, kurang terampil karena itu saya ingin memperkaya diri dengan cara selalu mengikuti program yang sudah dirancang.
Tahun baru di goa. Ini kali pertamanya saya merasakan tahun baru di goa. Ka Mando bercerita tentang orang tua. Saya teringat dan menyadari, empat tahun terakhir ini terhitung tahun 2011 hanya sekali saya merayakan tahun baru dan ulang tahun bersama orang tua di rumah. Ya merayakan tahun 2010 saya bersama keluarga. Sedang dua tahun sebelumnya berturut-turut saya merayakan ulang tahun dan tahun baru bersama dengan sispala di Gunung Gede. Tidak pernah saya mendapat kado ulang tahun selama empat tahun ini. Bagiku kebersamaan dan keberhasilan membawa rombongan ke puncak dan turun kembali dengan selamat serta kembali ke rumah dengan senyuman puas kepada orang tua adalah kado terindah selama saya hidup sampai detik ini. Saya sedih dan terharu melihat orang tua saya yang sabar ditinggal pergi anak-anaknya di momen dimana orang lain/tetangga berkumpul sekeluarga merayakan tahun baru dengan acara RT setempat. Saya beruntung memiliki orang tua seperti orang tua saya ini. Mereka mendukung kegiatan saya juga membantu dalam hal materi. Saya selalu bercerita pada ibu bahwa try out butuh ini dan itu dan ketika saya bingung belum mendapat perlengkapan try out, ibu saya dengan semangat membantu berpikir dan mencarikan. Padahal saya tidak minta tolong padanya. Orang tua saya pun tidak sulit mengeluarkan uang untuk membeli perlengkapan yang sekiranya vital dan dipakai jangka lama. Padahal masih bisa makan daging ayam dan sapi saja keluarga saya sudah sangat bersyukur. Semenjak bapak di PHK tepat saat saya lulus SMP, keluarga saya menjadi sangat selektif mengeluarkan uang dan hemat besar-besaran. Saya menangis jika ingat bagaimana bapak mencari nafkah kemudian. Berbagai usaha dicoba sampai berdagang barang loak juga dilakukan. Teringat saya menemani jualan baju di pinggir jalan panas-panas sampai kehujanan, diusir dan tidak mendapat lapak. Sangat memprihatinkan, maka itu saya terharu sekali bila orang tua saya dengan pedulinya membelikan perlengkapan kegiatan outdoor saya. Namun saya belum bisa membalas dan membuat mereka bangga. Saya terus menabung dan tidak jajan di kampus, selalu tiap hari membawa bekal makanan dari rumah dan lumayan hasilnya bisa untuk membayar ongkos try out dari pertama hingga terakhir. Bagi saya, malam tahun baru itu benar-benar menjadi refleksi dan evaluasi diri. Doa bersama kami panjatkan dipimpin oleh ka Rahman dan lilin xxx pun kami tiup bersama tanda kegiatan tersebut selesai. Kami keluar goa dan menuju bivak untuk istirahat. Entah tumben sekali saya susah tidur pagi itu padahal udara terasa hangat tidak dingin sama sekali bivak pun nyaman dan ada peningkatan dari kami dalam membuat bivak, kata ka Haris. Sepertinya belum ada satu jam saya tidur, instruktur sudah datang membangunkan saya. Seperti biasa memeriksa nadi. Kemudian kami shalat subuh dan packing. Sedikit ribut saat itu karena gerakan kami yang lambat. Sehingga kena hukuman push up. Lanjut dengan olahraga pagi. Sedikit menyiksa kaki saya olahraga ini, meski sudah diperban tetap saja sakit. Saya tidak bisa berlari, untuk jalan saja pincang. Padahal sepatu PDL yang dipakai masih sama dan cara pakainya pun sama. Try out pertama dan kedua kaki saya sehat, mulus, malah tidak lecet. Tapi try out ini yang berjalan hanya sebentar malah lecet lebih parah. Membuat mood saya menjadi tidak nyaman. Setelah olahraga kami turun ke bawah mengambil air untuk masak. Kami mengambil air di sumur milik penduduk. Kemudian kami makan pagi. Lahap dan cepat habis makanan saya karena menu daging ayam dan kentang goreng yang saya suka. Membuat saudara-saudara sebelah saya melirik ingin mencicipi. Andai saja instruktur tidak protes, saya sudah membaginya kepada mereka. Setelah makan pagi kami berkumpul di lapangan. Disini saya benar-benar merasa tidak nyaman, masih gara-gara kaki yang lecet. Kalau kaki sudah tidak beres, mood saya langsung buruk. Dengan wajah lesu saya berdiri. Ternyata tidak hanya saya yang lesu tetapi hampir semua siswa xxx juga, sampai-sampai ka Haris komentar dan menegur kami apa kurang tidur atau kurang makan. Pada dasarnya kami masih semangat. Pergantian dan pemilihan danru. Untuk try out ini instruktur ingin danrunya perempuan lagi, alhasil Andra dengan percaya diri maju sebagai danru. ‘Andra hebat’, pikirku. Kemudian kami apel pagi sebelum berkegiatan lagi. Kali ini ada tiga materi yang diaplikasikan maka kami dibagi menjadi tiga kelompok. Saya, Andra, Slamet, Rully, dan Rita tergabung dalam kelompok dua. Kelompok saya mempraktekkan teknik goa horisontal. Penelusuran goa horisontal dipimpin oleh ka Adit dan ditemani oleh ka Syanusi dan ka Sari. Kami memasuki goa yang sama dengan yang semalam, bedanya kali ini kami menerapkan teknik gerakan-gerakannya seperti merangkak (crawling), merayap (squeeze), terlentang, dan duck walking. Cukup lama kami disini sehingga semua dapat kesempatan mempraktekkan gerakan-gerakan tersebut sampai badan kami basah total karena merayap di lorong yang dipenuhi air. Kami semua antusias untuk mencoba lorong-lorong. Tapi sayang tidak semua lorong dapat kami telusuri karena jaraknya ada yang panjang. Walau gelap abadi, sesekali kami menemukan aven (cahaya dari luar goa). Habis waktu kami mempraktekkan teknik gerakan goa horisontal, selanjutnya kelompok saya melakukan sosiologi pedesaan. Didampingi oleh ka Nona dan ka Rita, kami menuju rumah Pak RW sebagai narasumber. Dengan point-point indikator yang telah ditentukan, kami mewawancarai Pak RW. Setelah dirasa cukup, kami pamit dan kembali ke basecamp. Kami mengulas kembali data dan informasi yang didapat kepada instruktur sambil beristirahat makan snack dan minum. Waktu seperti menunjukkan sudah tengah hari. Kami dikondisikan untuk makan siang dan shalat. Kami masak dan makan perkelompok. Ada yang berbeda makan kali ini. Kami diberikan daging ayam oleh instruktur. Setelah membagikan ayam ke masing-masing kelompok, saya mulai memasak. Kelompok saya memasak cukup banyak dan kami dengan cepat dapat menghabiskan makanan karena memang sangat lapar. Packing alat masak dan logistik selesai. Kini giliran kelompok saya mempraktekkan SRT di goa vertikal. Ini merupakan materi terakhir. Sepanjang perjalanan menuju goa, saya terus membayangkan autostop. Saya tempel di otak baik-baik cara menggunakan autostop agar kesalahan di kampus tidak terulang lagi. Kami sampai di lokasi. Sadar atau tidak para instruktur, wajah kami semua tegang sampai di lokasi. Apalagi kalau bukan karena instruktur-instruktur disini seperti ka Bregas, ka Mando, ka Doni, ka Haris, ka Rahman yang menuntut kami untuk benar-benar serius fokus. Langkah pertama kami membuat sit harness dari webbing. Ternyata ketegangan kami sedikit berkurang, praktek SRT ini benar-benar santai dan tidak ada instruktur yang marah-marah atau bicara galak pun tidak. Sampai pada giliran saya SRT, pertama kalinya saya bisa senyum tertawa saat laporan kepada ka Haris, instruktur saat itu. Sebenarnya karena ka Haris duluan yang senyum-senyum karena saya salah laporan, saya pun jadi ikut tertawa dan dengan kompaknya instruktur lainnya memarahi saya. Peralatan SRT sudah lengkap dan terpasang, saya mulai turun menggunakan autostop. Inilah dengan sangat pelan dan benar-benar pelan saya menekan tuas autostop karena memang masih trauma sehingga agak lama saya turun. Apalagi saya yang juga ragu-ragu melakukan tolakan kaki ke dinding goa. Sehingga dikritik oleh instruktur karena saya lama dan banyak tanya. Tapi lebih baik banyak tanya saat try out dari pada nanti aplikasi akhir, bukan. Descending saya lancar dan tidak ada masalah, ascending pun juga lancar hanya lagi-lagi lama ketika harus menolak dinding dengan kaki. Sedikit salah paham dan buru-buru, akhirnya saya sanksi dua seri. Menginjak kernmantel dan tidak memasang cowstail pendek sesampainya diatas. Sambil menunggu saudara yang lain praktek SRT, saya, Slamet, dan Andra diberi pertanyaan oleh instruktur. Sungguh diluar perkiraan kami. Kami kira disini materi yang paling menegangkan tapi ternyata justru paling menyenangkan. Kami tidak berhenti tertawa mendengar obrolan dan ‘celetukan’ instruktur dan Slamet. Slamet menjadi bahan tertawa saat itu. Ada-ada saja ulah instruktur. Tidak hanya kami, semua instruktur juga tertawa terbahak-bahak dengan jawaban-jawaban Slamet. Tidak pernah saya melihat wajah-wajah dari ka Mando, ka Doni, dan ka Haris ‘sekocak’ seperti ini. Beruntung sekali kelompok saya terakhir materi SRT. Jarang-jarang bisa tertawa-tertawa bersama instruktur seperti ini. Ditambah lagi dengan ulah Rita yang makin membuat suasana lebih ‘encer’ dan lucu. Tapi tidak untuk Rita sendiri dan ka Bregas. Karena ternyata Rita membuat naik pitam ka Bregas. Hanya Rita yang menghabiskan waktu paling lama yaitu sejam untuk praktek SRT. Hari sudah sore, kami pun selesai SRT dan kembali berkumpul dengan yang lain di lapangan. Di lapangan kami mengulas kembali kegiatan yang telah dilakukan dan kesan-kesan setelah menelusuri goa.
Semua packing untuk bersiap-siap kembali ke kampus. Setelah upacara penutupan, kami berpoto-poto bersama. Kemudian kami pulang dengan menggunakan bus UNJ. Sampai di kampus hari masih sore sekitar jam 8 malam. Serunya lagi, kami para siswa masih betah di kampus sampai sejam setelah sampai. Saking laparnya, kami mengeluarkan semua logistik dan masak di kampus. Try out yang paling menyenangkan. Danrunya saja edisi khusus perempuan dan semua bisa senyum-senyum senang. Sayang sekali bagi mereka yang tidak ikut. Dari mulai jatuh latihan SRT, ulang tahun disiram air, kembang api, nangis di goa, tertawa dengan instruktur, dan pengalaman lainnya bagiku yang sangat berkesan menutup tahun 2010 dan membuka tahun 2011.
Langganan:
Komentar (Atom)

